Belajar dari yang Tua

24 03 2015

Hari ini datang ke kantor dengan semangat 45, hari ini musti TENG GO. Gimana gak ya kan, cuti di hari jumat ibarat harga premium kembali jadi Rp 2500. Hehe.

Eh iya, gw termasuk orang yang sangat sadar, hari ini kebutuhan barang pokok muahaaaalll. Beras ga pake pemutih (baca : beras pulen sehat) seliternya aja 11rb di wilayah Cilegon, premium kembali naik jadi Rp 6.900, yang gue saat ini mampu isi hanya Rp 70.000 alias 10 liter kembalian serebu, harga bawang goreng Palu, setengah kilo aja Rp 150.000. Weleh weleh. Tapi gimana ya, gue coblos No. 2 kemaren dan sekarang gue lagi nikmatin perubahan kantong yang cepet berasa kempes. Bayangin aja, kemaren sempet banget pengen beli gorengan, dan harganya 1 cuman seribu. 😦

Tapi, gue masih believe, walau agak dan menjurus makin gak peduli malah hampir menyesali “bukan kenapa saya coblos dia, tapi lebih kenapa saya coblos atau ikutan demokrasi akbar itu”, ke believe-an ini didasari 2019 masih lama, beberapa target ukurannya pas (cth:perikanan dan kelautan), dan semakin luasnya sistem transparansi (cth: DKI, e-budgeting, Kota Bandung, Kota Surabaya, Badan-Badan Volunteer). Setidaknya masih ada daya dukung dari government tingkat sektoral, dan ada wujud kreatif anak bangsa contohnya batu akik. Deeeuh dikit banget ya yang menyokong.

Apalah itu, tadi gue diingetin ama orang tua, Pak Mamat namanya, tukang sate keliling di lingkungan gue ini, umurnya 85, tapi masih kuat dan mantap kipas kipas satenya, dan dorong gerobaknya yang gue yakin berat. Pak Mamat ini bercerita sambil kipas-kipas sate, beginilah ceritanya:

Gue: “gak mangkal pak?”
PM : “kalo mangkal ada mas, di sebelah apotik depan yang jaga anak, saya umur 85 mas, alhamdulillah masih kuat jualan sendiri, hitung hitung olahraga”
Gue: “widih mantap pak, ngerokok ga pak?”
PM : “sudah berhenti 2 tahun lalu, kopi rokok stop”
Gue: “umur 83 masih ngerokok, masih mantap ya pak kibasan satenya?”
PM : “Mas, tak kasih resepnya, SENENG kuncinya”
Gue: “kalo kerjaan bikin ga SENENG gimana?”
PM : “itu namanya ujian bersyukur”
“Nih mas, saya dan tetangga jarak rumah ga sampe 3 meter, tetangga sebelah motor ada 2 alhamdulillah saya ikut seneng, eh kemarin nambah 1 yang besar bagus lagi, saya malah seneng bukan sirik mas, sapa tau bisa di ajak ke depan gratis kan, saya malah doain biar dia bisa beli mobil, siapa tau bisa diajak jalan-jalan kan” (degdegdeg hati gue)
Gue: ” hmmm, wih satenya besar banget pak?”
PM : “ya saya beda mas ama tukang sate lainnya, saya ini seringnya dipake buat kawinan, malah saya sendiri bingung ama pelanggan saya, kadang kadang manggil MAAAT, sambil lalu”
Gue: “pak, anak berapa?”
PM : “2 mas, perempuan semua, satu di bekasi, suaminya di pertamina.”
Gue: “alhamdulillah y pak”
PM :”yang penting seneng mas, kakak saya perempuan umur 95, masih kuat, jualan sate juga, tapi dia mangkal”
Gue: “eh iya pak?”

Gue akhiri obrolan ini, dengan ambil sate yang gede gede tadi sambil bayar. Gue lalu, dan dia masih bilang “Disenengin aja mas”.

Besok kalo dia lewat lagi gue akan kupas lebih.
Moril malam ini, mau gimana keadaan kamu, selama kamu nikmatin dan senengin, bersyukur dengan keadaan, dan biarkan orang lain lebih senang dari kamu seraya kamu doakan kebahagiaan dia, niscaya kamu telah lebih bahagia dari mereka.

Salam, keep struggle.

Iklan




Palangka Raya (Central Borneo)

6 01 2013

a city from the largest province in Borneo…

Palangka Raya atau Tambun Bungai sering di sebut oleh masyarakatnya, belum tau pasti apa itu Tambun Bungai, namun dari cerita yang beredar, Tambun Bungai adalah sosok pendekar di Palangka Raya ini yang berbadan tegap dan besar. Entah hanya mitos atau apa..

Kotanya

Kota Palangka Raya dilihat dari bentuk tata kotanya sudah rapi, di temani oleh aspal – aspal mulus yang menghubungkan kota ini dengan kota lainnya di Kalimantan. Disini kehidupan dimulai sebelum subuh hingga larut malam. Untuk mereka yang berbelanja kebutuhan sehari – hari, pasar-pasar sudah buka sebelum subuh, untuk mereka yang mencari angin malam, bisa melewatkan di Bunderan Besar (landmark) dan sepanjang sungai Kahayan.

Seperti Banjarmasin, di Palangka Raya tidak ada satu TPS besar, jadi mudah kita temui, di sudut gang atau di pinggir jalan, tempat sampah jadi-jadian mudah di temukan. Kebanyakan warganya langsung membakar sampah kering, jadi bisa di bayangkan kalo mereka rame-rame bakar sampahnya.

Warganya

Warganya welcomeee banget, dateng dari airport tjilik riwut langsung bertemu dengan sopir taxi nikki yang ramah betul. Stay 2 malam di Luwansa Hotel juga mendapat sajian kelas 1, Mudah senyum, membalas sapa adalah tipikal orang Palangka Raya, semoga ini terus bertahan demi majunya kota.

Pekerjaannya

Seperti banyak di kota lain di belahan bumi Indonesia ini, pensiunan adalah pengharapan pada masa tua, oleh karena itu mereka sibuk antrian CPNS. Kota ini bisa dikatakan kota PNS, dikarenakan banyak sekali hilir mudik kendaraan ber plar Merah, dan hampir di sepanjang jalan kota pasti tersembul instansi pemerintah.

Menurut Tim gw di kantor, di kota ini calon mertua akan mudah merestukan hubungan jika dirinya adalah PNS, meski tingkat rendah namun terjamin adanya, dibandingkan Swasta namun tinggi jabatannya. Anomali.

Kulinernya

ini nih yang sedep, kota ini hampir mirip dengan kota di Kalimantan lain (kaya gue udah kemana aja), ikan sungai banyak banget (melimpah). Mau dari bawal putih, Nila, Saluwang, Kakap, ada semua. Kualitas no 1 . Maka jangan kaget, kalo makan di sekitaran bunderan besar sepiring nasi + bawal putih bisa 55 ribu sama teh es. Oh ya, teh es itu adalah nama lain dari es teh manis. hehe.

Mau seafood, siap kok juru masak menyiapkan di meja kalian. Rata-rata masakan sini terilhami (ceilah) dari Banjarmasin, makanya soto banjar laris manis disini. Ada yang unik jika kalian makan soto tersebut, jika pake lontong maka tinggal bilang Soto Banjar 1 mangkok, tapi kalo mau pake nasi jangan bilang gitu yah, bilangnya Sop Banjar. Alhasil Nasi yang akan tertuang di dalam lautan sotonya. haha (lebay)

Makan sayuran pun ada uniknya, jika sayur asam di Jawa itu berwarna bening, disini akan mirip kuah soto, nah lo ? di kasih kunir sih kayaknya, tapi well ga ada lagi, enak.
Sayur bening, nah ini nih, mata lo pada bakal liat kentang rebus di taro di dalem kuahnya, pas lo makan, tet tot, taunya labusiam kuning. Yap, banyak orang ngira ga enak kan tuh labusiam kuning di sayur, tapi di Palangka wueeenaaakkk.. Pilihan makan itu bisa kalian temui di sekitar 100 meter sebelum Megatop Hypermart Jl. Yos Sudarso, sebelum tambal ban satu satu nya di jalan ini.

Akses

Penerbangan dari Jakarta 4 kali sehari, dari Surabaya 2 kali sehari, mau naik boot, bisa, silahkan ke pelabuhan Banjarmasin, trus pilih boot menuju Palangka, nanti akan turun di terminal Kahayan. haha, 1 kali 24 jam katanya.

Wisata

Hal pertama yang akan lo rasain adalah liat Hutan Belantara, itu adalah wisata terindah di sini, orang Utan liar masih banyak lo disini. Bahkan disini ada arbotetrum tempat pemeliharaan orang tua untuk menjadi liar kembali, tempatnya di daerah sekitar Jalan. Tjilik Riwut.

Susur Sungai Kahayan, mmh, jika kalian yg ga mudah bosenan dan suka sama pemandangan air, wajib ikutan nih susur sungai, untuk sewa kapal sekitar 2 juta per trip, jadi bawalah rombongan kalian sebanyak-banyaknya, nanti lo lo pada bisa liat orang utan liar, suku dayak ori (emangnya ada KW nya) di pinggir sungai kahayan, memakan waktu estimasi 3 jam .
bawalah sunblock, dan powerbank.

Sebetulnya masih banyak wisata elok di sini, cuman belum sempet kemana – mana, tapi karena gw belum dapet temen buat ngacir kemana – mana ya nikmatinlah kotanya dulu. Kota yang oke lainnya di Central Borneo ini adalah sampit dan pangkalan bun, serta sang penghasil emas si kabupaten Gunung Mas. Someday i ‘ ll be there.





beberapa hari terakhir ini

24 03 2010

ALhamdulillah,,
kita msih dikasi kenikamatan malam ini oleh Tuhan YME, kenikmatan kaan suasan ketenangan, dan kenyamanan kerinduan malam.
Beberapa hari terkahir ini saya selalu tersentuh oleh keadaan alam yang begitu menyedjukkan, terutama di kota yang kini saya sementara tinggali, Purwokerto.
Beberapa hari terakhir itu pula, gw ga nulis ni di blog karena beberapa alasan :

MIKIRIN SKRIPSI

Hari Sabtu kemarin, gw ke Wonosobo donk, tapatnya ke desa kledung yang udah masuk batas daerah Temanggung. Disana, saya menemani tim dari MOONPALA untuk mengantarnya ke Gunung Sundoro. Ditemani oleh kedua kawan, saya , wahyu, dan Taufik naik motor beriringan, walaupun lama-lama misah jauh.. Kita juga sempat makan mie Ongklok lo. Seperti postingan lama saya tentang Wonosobo. Mie Ongklok Longkrang kini dengan harga 1 porsei mie Rp 4.000, 5 tusuk sate Rp 5.000, Gorengan Rp 1.000, Es Teh Rp 2.000, sungguh lezat untuk dimakan.
Setelah dari Wonosobo, gw lagi-lagi dipusingkan dengan skripsi, semangat untuk menyelesaikanya makin terpupuk setelah melihat teman hari ini diwisuda. Semangat itu ada dasarnya. Sungguh luar biasa. Kesibukan ini akan berlanjut hingga beberapa hari kedepan, tapi tenang ada buat WP mania. Strugglemoment akan tetap eksis di jalur BLog Pribadi yang peuh dengan kejujuran, Adrenaline, dan tentu saja memihak yang Lemah.





Santapan Khas Wonosobo

18 11 2009

“woi depeeeeeeeeeeee” teriak estrada

“yooouuw” balas depe singkat

Kesunyian pegunungan Sundoro-Sumbing tampaknya membuat hilang sudah beban dipundak ini

“Pe, lo ada rokok gak? tanya ardi

“ada, Filter, mau lo” jawab depe

“Minta mulu lo trada, kayak gw donk, ahha” celoteh mango dari kejauhan

“yaelah ngo, si depe aja nyelow” sambil melirik ke bayu

Kita bertiga akhirnya tertawa renyah

“Woi, gw abis browsing neh, ada ongklok katanya di kota” sergah depe

“iya-iya gw tau, kata bokap gw, percuma kalo ke wonosobo gak nyobain ongklok” jelas Mango

“makanya buruan lo pada-pada” kata Tujo

“siap Jenderal, mang lo tau dimana jo?” tanya estrada

“kagak juga, makanya keburu malem, ntar nyarinya susah, dongo banget dah lo pada-pada!” jelas Tujo, sang Jenderal perjalanan Gn. Sumbing

“yee, noh trada yang nyelow, gw ma mango mah udah siap dari tadi” sergah depe

Basecamp, 15.00

“Woii mang, makasih ya, kita udah numpang mandi, nanti kitamaen-maen lagi, sekarang langsung mau ke wonosobo, makan ongklok, langsung pulang” kata Tujo kepada penjaga Basaecamp

Dalam perjalanan menuju aspal jalan raya, mereka ber 4, berteriak, kadang-kadang tertawa menjelaskan cerita di puncak, mereka terlalu menyadari indahnya Indonesia sekarang

Wonosobo 16.30

“woi, sekarang lo taro bawaan di ibu, nanti langsung capcus naek angkot kta ke kota !! Tujo memberi penjelasan ke mereka

“Seep” jawab mereka serempak

Tas-tas berat kotor itupun dititipkan ke ibu, ibu ini adalah penjaga warung di ujung terminal wonosobo, ramah, dan baik hati, maka dari itu, dijadikan pos untuk mereka yang sedang menanti santapan khas Wonosobo “Mie Ongklok”

“woingo, lama amat lo kencing?” teriak estrada

“sabar napah, sapa sih? tanya mango

“gw, buruan napah, gw juga kebelet neh, lagian udah ada angkot yg nungguin kita” jelas estrada

“iya, iya suuuuuu” balas mango, sambil keluar, sambil menyeleretkan resletingnya

“woi joooo,, mana angkotnya? tanya mango

“noh, yang ada depenya! Jelas tujo, sambil celingak-celinguk ngupil-ngupil gak jelas

“ngo, buruan lo ke angkot, gw bayar ke ibu dulu nih” tambah tujo, sedikit berteriak

“owke” jelas mango

———————-di dalam perjalanan pencarian mie ongklok——————

Angkot berjalan mulus, tak henti-hentinya, si Tujo, sang komandan perjalanan berkomat-kamit dengan sang sopir angkutan kota. Yang lainnya, anya mengudut, dan tertawa saja.

“pe, turun” tepuk tujo

“yoo, mang udah nyampe jo?” tanya depe

“kata abangnya jalan lagi 100 m dari perempatan ini ke sana” lirih tujo sambil mengacungkan jarinya ke arah kiri depe

“woi bay, trada ayo juga” sergah tujo

“oouww, dikira gw depe doang yang disuruh turun! jelas estrada dan mango

“Mie Ongklok  mie asal Wonosobo, tak pernah ditemuin di Purwokerto”jelas depe

sambil berjalan mereka, sibuk dengan kegiatan masing-masing, estrada mengurut pundaknya, tujo yang selalu melirik bulu hidungnya, mango yang ngeliatin ibu-ibu naik becak, dan depe yang selalu online ceria.

“Jo jo jo noh mie ongklok!!!’ sambil menunjuk ke arah plang si mango

“owke, kita paranin” ajak Tujo

Sambil mengikuti depe, dan estrada membeli rokok di sebelah kelontong mie ongklok,

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah” tutup ibunya, jelas si tujo dan si mango

“waaa, giman nie” kompak trada dan depe

Hmm, sebagai jenderal, tujo pun berkomat-kamit kepada warga Wonosobo, dalam usaha pencarian mie ongklok ini

Perjalanan panjang 200 m pun mereka tempuh, entah sudah berapa menit yang mereka lalui, sudah hampir gelap mentari Wonosobo, alun-alun sudah mereka kitari, hampir tidak ada kenampakan yang jelas dari si mie ongklok

“ngo ngo ngo, dapet kita, dapet kita” teriak depe

“paan sih??”tanya mango

“woiii, noh mie ongklok” sergah trada

“yo ayok” kata tujo

“oh iya ya” sambil berlari mango

Mereka pun akhirnya menhampiri sebuah warung dengan tulisan mie ongklok, makin penasaran saja mereka dibuat oleh mie ongklok! dipesannya langsung 4 porsi

“howke, mie ongklok, aku datang” geram depe

“hahahaha” tawa mereka

“bu, mie ongklok pake apa aja?? tanya mango

“mie ongklok pake kaldu, kentel, temennya ma sate tuh” Ibu penjual mie ongklok memberi penjelasan

“owkeeee” kata mereka

17.30 Warung Mie Ongklok

“Santapan datang” kata trada

“gw ambil 2 sate jo” jelas depe

“seep” gumam tujo

Dengan harga Rp 4.500 mereka menyantap mie ongklok dengan sangat puas, tambahan kerupuk dan sate makin memantapkan kekenyangan mereka. Sampailah rasa dahaga bermunculan, dan sampailah mereka pada khir mereka dalam pencarian mie ongklok ini.

 


Bahan :
750 ml kaldu daging
3 sendok makan tepung kanji
3 sendok makan kecap manis
300 gram mi basah
100 gram kol, iris kasar
10 pohon kucai, iris halus
2 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu Halus :
2 siung bawang putih
1/4 sendok teh merica
1/2 sendok teh garam

Cara Membuat :
Tumis bumbu halus sampai harum. Masukkan kaldu lalu kentalkan dengan air sagu. Biarkan mendidih. Angkat.
Masukkan mi dan kol dalam saringan lalu rebus sambil diongklok atau dikocok sampai matang.
Masukkan mi dan kol ke dalam mangkuk lalu siram dengan kuah. Taburkan kucai. Sajikan panas.

untuk 6 porsi
Sumber resep: Sedap-sekejap.com