Santapan Khas Wonosobo

18 11 2009

“woi depeeeeeeeeeeee” teriak estrada

“yooouuw” balas depe singkat

Kesunyian pegunungan Sundoro-Sumbing tampaknya membuat hilang sudah beban dipundak ini

“Pe, lo ada rokok gak? tanya ardi

“ada, Filter, mau lo” jawab depe

“Minta mulu lo trada, kayak gw donk, ahha” celoteh mango dari kejauhan

“yaelah ngo, si depe aja nyelow” sambil melirik ke bayu

Kita bertiga akhirnya tertawa renyah

“Woi, gw abis browsing neh, ada ongklok katanya di kota” sergah depe

“iya-iya gw tau, kata bokap gw, percuma kalo ke wonosobo gak nyobain ongklok” jelas Mango

“makanya buruan lo pada-pada” kata Tujo

“siap Jenderal, mang lo tau dimana jo?” tanya estrada

“kagak juga, makanya keburu malem, ntar nyarinya susah, dongo banget dah lo pada-pada!” jelas Tujo, sang Jenderal perjalanan Gn. Sumbing

“yee, noh trada yang nyelow, gw ma mango mah udah siap dari tadi” sergah depe

Basecamp, 15.00

“Woii mang, makasih ya, kita udah numpang mandi, nanti kitamaen-maen lagi, sekarang langsung mau ke wonosobo, makan ongklok, langsung pulang” kata Tujo kepada penjaga Basaecamp

Dalam perjalanan menuju aspal jalan raya, mereka ber 4, berteriak, kadang-kadang tertawa menjelaskan cerita di puncak, mereka terlalu menyadari indahnya Indonesia sekarang

Wonosobo 16.30

“woi, sekarang lo taro bawaan di ibu, nanti langsung capcus naek angkot kta ke kota !! Tujo memberi penjelasan ke mereka

“Seep” jawab mereka serempak

Tas-tas berat kotor itupun dititipkan ke ibu, ibu ini adalah penjaga warung di ujung terminal wonosobo, ramah, dan baik hati, maka dari itu, dijadikan pos untuk mereka yang sedang menanti santapan khas Wonosobo “Mie Ongklok”

“woingo, lama amat lo kencing?” teriak estrada

“sabar napah, sapa sih? tanya mango

“gw, buruan napah, gw juga kebelet neh, lagian udah ada angkot yg nungguin kita” jelas estrada

“iya, iya suuuuuu” balas mango, sambil keluar, sambil menyeleretkan resletingnya

“woi joooo,, mana angkotnya? tanya mango

“noh, yang ada depenya! Jelas tujo, sambil celingak-celinguk ngupil-ngupil gak jelas

“ngo, buruan lo ke angkot, gw bayar ke ibu dulu nih” tambah tujo, sedikit berteriak

“owke” jelas mango

———————-di dalam perjalanan pencarian mie ongklok——————

Angkot berjalan mulus, tak henti-hentinya, si Tujo, sang komandan perjalanan berkomat-kamit dengan sang sopir angkutan kota. Yang lainnya, anya mengudut, dan tertawa saja.

“pe, turun” tepuk tujo

“yoo, mang udah nyampe jo?” tanya depe

“kata abangnya jalan lagi 100 m dari perempatan ini ke sana” lirih tujo sambil mengacungkan jarinya ke arah kiri depe

“woi bay, trada ayo juga” sergah tujo

“oouww, dikira gw depe doang yang disuruh turun! jelas estrada dan mango

“Mie Ongklok  mie asal Wonosobo, tak pernah ditemuin di Purwokerto”jelas depe

sambil berjalan mereka, sibuk dengan kegiatan masing-masing, estrada mengurut pundaknya, tujo yang selalu melirik bulu hidungnya, mango yang ngeliatin ibu-ibu naik becak, dan depe yang selalu online ceria.

“Jo jo jo noh mie ongklok!!!’ sambil menunjuk ke arah plang si mango

“owke, kita paranin” ajak Tujo

Sambil mengikuti depe, dan estrada membeli rokok di sebelah kelontong mie ongklok,

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah” tutup ibunya, jelas si tujo dan si mango

“waaa, giman nie” kompak trada dan depe

Hmm, sebagai jenderal, tujo pun berkomat-kamit kepada warga Wonosobo, dalam usaha pencarian mie ongklok ini

Perjalanan panjang 200 m pun mereka tempuh, entah sudah berapa menit yang mereka lalui, sudah hampir gelap mentari Wonosobo, alun-alun sudah mereka kitari, hampir tidak ada kenampakan yang jelas dari si mie ongklok

“ngo ngo ngo, dapet kita, dapet kita” teriak depe

“paan sih??”tanya mango

“woiii, noh mie ongklok” sergah trada

“yo ayok” kata tujo

“oh iya ya” sambil berlari mango

Mereka pun akhirnya menhampiri sebuah warung dengan tulisan mie ongklok, makin penasaran saja mereka dibuat oleh mie ongklok! dipesannya langsung 4 porsi

“howke, mie ongklok, aku datang” geram depe

“hahahaha” tawa mereka

“bu, mie ongklok pake apa aja?? tanya mango

“mie ongklok pake kaldu, kentel, temennya ma sate tuh” Ibu penjual mie ongklok memberi penjelasan

“owkeeee” kata mereka

17.30 Warung Mie Ongklok

“Santapan datang” kata trada

“gw ambil 2 sate jo” jelas depe

“seep” gumam tujo

Dengan harga Rp 4.500 mereka menyantap mie ongklok dengan sangat puas, tambahan kerupuk dan sate makin memantapkan kekenyangan mereka. Sampailah rasa dahaga bermunculan, dan sampailah mereka pada khir mereka dalam pencarian mie ongklok ini.

 


Bahan :
750 ml kaldu daging
3 sendok makan tepung kanji
3 sendok makan kecap manis
300 gram mi basah
100 gram kol, iris kasar
10 pohon kucai, iris halus
2 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu Halus :
2 siung bawang putih
1/4 sendok teh merica
1/2 sendok teh garam

Cara Membuat :
Tumis bumbu halus sampai harum. Masukkan kaldu lalu kentalkan dengan air sagu. Biarkan mendidih. Angkat.
Masukkan mi dan kol dalam saringan lalu rebus sambil diongklok atau dikocok sampai matang.
Masukkan mi dan kol ke dalam mangkuk lalu siram dengan kuah. Taburkan kucai. Sajikan panas.

untuk 6 porsi
Sumber resep: Sedap-sekejap.com


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: