Ga ada yang ngalahin

23 02 2011

Kekuatan seseorang terkadang dengan ada atau tidaknya sesuatu ide pada diri mereka, untuk keberlangsungan mereka, dan “mungkin” untuk orang lain pula.

Jika kita kembali pada 2001, John Nash (1948) dalam film “beatuiful minds” mencoba merevisi sebuah pernyataan Adam Smith, bahwa sesuatu dapat berhasil jika masing-masing mencapai target pribadi, dan bersama-sama mencapai target kelompok. Mentahnya paham lasseiz faire yang dibangun oleh Adam Smith ini, menjadikan John Nash memiliki peranan penting dalam ekonomi kontemporer.

Terlepas dari kisah John Nash, kita dapat mengambil hikmah yakni, adanya suatu kesukarelaan untuk mengejar target bersama, dan memiliki suatu target/misi untuk diri sendiri.
Sepertinya gw telah ngerasain beberapa kali hal ini, namun baru nemu teorinya aja. Jawabannya, berpetualang !

Ya, berpetualang ke hutan terdalam, gunung tertinggi. Itu yang di lakukan, Target personalnya adalah mencari pengalaman baru, dan pemurnian otak kembali. Target secara kelompok adalah menggapai hutan terdalam, dan puncak tertinggi secara bersama-sama dan pulang dalam kondisi yang sehat walafiat. Caranya adalah dengan bekerja sama satu sama lain.

Dunia itu, gw temukan saat SMA bersama sebuah kelompok pencinta alam, Moonpala namanya. ga ada yang ngalahin secara pendapat pribadi. Entah kenapa, selalu terbayang momen saat berdiri di puncak tertinggi, momen saat rambut tertiup oleh angin lembah, tidur dalam kesunyian dan bisikan alam, yang sudah jarang ditemukan kini.

Seperti memang sudah menjadi takdir, sesampainya di purwokerto, menumpang tidur (kos) di sebuah kosan tidak elite sama sekali, bombay namanya. Berbicara, bercanda, berdiskusi, saling mengkritisi, saling memberi ide tumpah ruah di sana. Dari sanalah juga, puncak gunung slamet berhasil gw injak untuk pertama kali. ga ada yang ngalahin untuk tempat tinggal sementara terbaik.

bagaimana dengan sekarang ?

Meski menyesalkan diri sendiri, tidak ada yang mengikuti untuk bepergian ke gunung tertinggi, tak apalah, setidaknya kelompok diskusi masih ada, setidaknya bibir masih terucap untuk bisa didengarkan orang lain.
Meski rata-rata adalah anak kampus, yang lebih khusus lagi adalah anak kelas yang mencoba berperang dengan nilai SKS selama 4 tahun lebih, sepertinya kurang untuk tidak pergi berpetualang, setidaknya ada usaha untuk mencoba sekali saja. Entah itu ke gunung tertinggi, jeram terjal, lautan terdalam. Pernah dulu di coba ke pebukitan di Dieng, namun belum tersentuh perasaan ini seperti yang di katakan John Nash sebelumnya, yakni keberhasilan. Keberhasilan hanya terbagi bagi sebagian kecil orang, tak banyak. hanya dua orang. Merasakan esensi dan suara alam adalah keberhasilan kawan. Selamat bagi yang telah merasakan.

Moonpala, Kos Bombay. Dua hal yang berbeda, karakteristik masing-masing, bentuk perdulipun dengan cara masing-masing, tapi sama-sama satu rasa, satu semangat. Energi yang tlah tercurahkan, begitu besar gw rasakan. Terimakasih dengan kegiatan alamnya.

Iklan




pesan november

4 11 2010

gunung-gunung telah menjadi waspada di akhir pekan ini. kurang lebih ada 19 gunung yang sudah dinaikkan peringkatnya oleh Badan Vulaknologi Indonesia.

Sepertinya bulan ini akan menjadi kelabu dengan debu – debu yang beterbangan di jalan raya. Dari jogja hingga tasikamalaya, belum juga gunung-gunung berapi yang masih ada 19 lainnya yang terbentang di patahan Indo-Australia.

Hujan gerimis yang datang, juga tidak menunjukkan kearifannya, masih ada ribuan ton debu debu di puncak gunung yang bisa turun kapan saja, bisa menerjang yang ada di bawahnya entah kapan. Debu-debu di jalan raya mungkin akan hilang berganti dengan kelabu aspal. Daun-daun yang menghitam mungkin akan menjadi semakin hijau akibat setelahnya, tapi itu nanti saat november ini telah berganti puuhan tahun di depannya.

November yang kelabu tlah tertutupi oleh semai-semai kabut dan debu yang mencekam, oleh hawa yang panas. Mungkin benar jika november ini membawa pesan kepada kita untuk menjadi arif dan bijaksana terhadap lingkungan, sehingga air-air yang turun dari langit akan membawa berkah bagi kita semua, akan menjadi pesan cantik di penghujung tahun, yakni di bulan Desember





Antara Lagu, Malam, dan Rimba

26 10 2010

Berawal dari iseng iseng buka thread OANC (outdoor adventure and nature clubs), akhirnya nemuin thread tentang lagu-lagu yang biasa di bawain oleh para pendaki gunung.

Tidak tampak diantaranya lagu-lagu Rimba Raya, Survival, dan lagu-lagu yang biasa kami nyanyikan saat menjelajah nusantara.

Tampak di thread tersebut lagu-lagu dari:

  1. Iwan Abdulrachman : Mentari, Api Unggun, dll
  2. Iwan Fals : Lagu Pemanjat
  3. Slank : Tepi Campuhan
  4. Rita Ruby Hartland : Pecinta Alam
  5. Dewa 19 : Mahameru
  6. The Blarak : Mahameru (youtube)

Sungguh hebat lagu-lagu itu, benar benar terasa dalam semilirnya angin mandalawangi, seperti terasa deburan ombak di pantai sundak. Mengalir dalam satu kegembiraan bersama dalam sebuah aroma kopi yang tertiup tertiup asapnya di malam ini.

Mentari sedang berputar di dalam playlist winamp, dan semangat menulis blog ini hadir dalam bait bait bunyinya. Lagu lama yang baru didengar, lagu lama yang tak diketahui banyak orang, lagu lama yang berisi ribuan semangat.

MENTARI

Mentari menyala di sini
Di sini di dalam hatiku
Gemuruh apinya di sini
Di sini di urat darahku

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satu pun yang sanggup menghalangiku
Bernyala di dalam hatiku

Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap menyala
Di sini di urat darahku

Lagu ini telah menjadi adat di ITB, sebagai salah satu lagu orientasi mahasiswa baru. saya mengetahui ini saat blogwalking. Lagu yang memenuhi inspirasi saya malam ini, bersama hangatnya seruputan kopi dan jemari-jeamri yang lincah menari-nari di atas papan tulis keyboard ini.

Pencipta dan pengguba lagu itu adalah Iwan Abdulrahcman, salah seorang pendiri Wanadri. Akrab dipanggil abah Iwan oleh para anggota Wanadri. Umur 62 tahun masih menempuh perjalanan rimbanya ke Ndugu-Ndugu (puncak tertinggi di Indonesia). Unbelievable.

Lama, saya membaca tentang profil beliau, entah di blognya atau dari berbagai milis. Terdahsyatnya adalah saat ada seseorang yang bertanya dalam media web nya:

Pertanyaan saya, apa yang membuat anda tertarik untuk mendaki gunung dan kepuasan apa yang anda dapat setelah mendaki gunung, serta  apa yang membuat anda ketagihan untuk terus mendaki gunung?
Ridwan Kurniawan- Sukabumi.

Jawaban:

Orang tua kita menyampaikan bahwa, kalau kita bergaul dengan orang-orang jahat kecenderungan untuk menjadi jahat akan timbul, dan bila kita bergaul dengan orang-orang baik kecenderungan untuk menjadi baik lebih terbuka.
Konon katanya pohon-pohon di hutan dan gunung-gunung bertasbih dengan khidmat kepada Yang Maha Kuasa, siapa tahu dengan menzarahi dan bergaul dengannya kita terbawa untuk itu.

Kang Ridwan yang baik, sungguh sulit untuk menerangkan rasa manis gula, kecuali mempersilahkan orang untuk mencicipinya.
Abah Iwan

Sungguh jelas bahwa semangat dalam diri Iwan Abdulrachman sangat kuat, sangat gigih, dan simple.

Semoga orang-orang seperti beliau selalu dalam limpahan rahmat dan hidayatNya, sehingga lagu-lagu yang diciptakan terus mengalir dalam urat nadi darah manusia penjelajah nusantara di bumi pertiwi.

*Download lagu-lagu diatas, dapat dilihat pada tiap judul lagu (hanya untuk didengarkan, wahai sesama pencinta alam)




Cerita dari Si Ranu dan Si Meru bagian III

15 08 2010

6 Agustus 2010

Summit Attack (elegi sabit dan bintang terang)

Pukul 02.00

Nikmatnya sop asparagus bergantian mengisi kerongkongan kering ini, ditambah dengan secangkir teh hangat yang berputar bergantian pula. Bulan sabit itu pun seperti menyunggingkan senyumnya, dan ribuan bintan terang itu makin membuat bibir ini berucap lafaz Allah sekali lagi.

Seluruh manusia berkeyakinan kuat ini telah membuat suatu lingkaran untuk mensyukuri nikmat hingga hari ini, seraya berdoa untuk sebuah perjalanan sejati, menuju puncak suci tempat petilasan soe hok gie bersemayam.

Bismillahirrahmanirrohim
Ya Allah, Mudahkan perjalanan kam
Untuk menuju puncak MAHAMERU
Ya Allah, permudahkanlah langkah kami
Amiin

briefing singkat pun digelar, kesimpulan utama. Harus turun sebelum jam 9, dan berbicara jika ada batu yang di jatuhkan.

Manusia dari kalimati pun telah bergabung, sebelum doa bersama.

Dan kini, lampu-lampu putih itu telah bersinar dari kepala masing-masing. sambil beriringan melewati satu per satu petilasan jejak langkah manusia yang meninggal di si Meru, melewati satu per satu gundukan batu tebal yang dapat bergeser, menaiki satu langkah pasir tebal, menurun kembali satu langkah akibat licinnya sebuah jalur pendakian.

Awas- Awas itu lah yang terucap, bibir jurang blank 75 sangat dekat dengan kami, satu per satu berjalan perlahan, menyusuri turunan yang kembali di sambut oleh sebuah tanjakan yang menantang, gelap segelapnya kalah oleh terang dari sang bintang, temaram malam menuju senja saat manusia sedang tidur dengan asyiknya terkalahkan oleh ratusan manusia yang kebanyakan dari tanah air dalam merengguk kenikmatan diri di puncak dewa.

Melihat kebawah sama saja melihat lautan manusia dan pemandangan sejati . Sinar-sinar dari lampu tempel di kepala itu sudah cukup untuk menyinari malam ini, angin yang menusuk telah di tutupi dengan lapisan Jaket, gw sendiri memakai 3 jaket di dalamnya. Hingga pada akhirnya , sebuah tembok raksasa dengan kanan kiri jurang, inilah dia si Meru, sambil dia berucap “selamat datang, dan hati-hati, masih panjang perjalananmu Nak

Cemoro Tunggal

Menurut buku catatan seorang demonstran :soe hok gie, gie dan kawan-kawan dari Mapala UI pertama kali mendirikan kemah pada sebuah pohon cemara, yang tertancap dengan agung di lereng si Meru, hanya satu dan tiada teman, oleh karena itu disebut Cemoro Tunggal.

Inilah awal dari itu semua, menuju lautan pasir yang perlu di jinakkan untuk menggapai keikhlasan diri. Untuk melihat asap dari Jongkring Seloka dari dekat yang telah merenggut nyawa dari Gie dan Idhan Lubis.

Perjalanan semakin berat, backpack di punggung pun masih tampak berat, walaupun hanya membawa beberapa minuman, ponco, webbing, dan kamera. Susuri jalan kanan berarti mati, susuri jalan kiri berarti mati pula, sungguh rumit, anak muda luar biasa pun telah melesat jauh.

Lingga sedikit tergopoh-gopoh dengan sarung di mukanya, babab pun tidak menunjukkan aksi nya kemarin-kemarin, sungguh luar biasa ini si Meru, terlihat bias, si Meru hanya menyunggingkan senyumnya, dan lago-lagi sang sabit menyemangati kita, di balik bebatuan keras itu lah, mentari mulai mengalahkan malam. Pemandangan seakan-akan menjadi – jadi untuk diabadikan, terlihat dengan jelas Arjuno Welirang di sebelah kiri, hamparan awan kinton di sebelah kanan, dan si cantik Ranu Kumbolo di depan terhalang bukit Kepolo.

Nyaman, sangat nyaman, jika ini puncak mungkin akan lama saya disini, tapi tampaknya ketinggian di atas masih sangat jauh, ssangat menyiutkan hati ini. AYO semangat, itulah yang hanya terucap, dengan saling berbagi air dengan Lingga, lagi-lagi kami harus menaklukkan pasir-pasir yang sudah kusam ini.

Di bawah terlihat ratu, tujo, dan bagunung. Masih terlihat bersemangat mereka. Semoga mereka mendaki ke puncak bersama-sama.

Puncak Abadi Para Dewa (paku suci pulau jawa)

07.00

Angin makin kencang, membuat bibir ini semakin perih, gigi yang bergerutu seakan-akan bersatu dengan gemeretak batu, tak sadar, batu-batu kecil itu masuk ke dalam mulut, dan orang-orang Perancis itu telah turun kembali, sangat hebat mereka. Mereka telah menggapai puncak.

Gw sendirian, lingga, afif, dan anak muda luar biasa yang lain telah diatas, langit sudah terang, dan yang telrihat hanya bendera Semapur yang terkibar-kibar oleh angin dingin ini. langkah – langkah demi langkah terus melaju, sedikit turunan terlihat, dan pendaki sesama negeri telah turun kembali pula, 15 menit lagi kata mereka.

Ah tak apa, tak dikasih tahu, semangat ini yang hanya membantu gw sekali lagi. Melipir jurang sedikit ke kiri, tanjakan kembali menyambut, licin, dan tak kuasa dengkul ini untuk melangkahkan telapak kaki lagi, di sana Gonek telah merekam beberapa adegan menuju puncak dewa, Salat dan binong pun telah ngumpet di bebalikan bebatuan dasar bumi.

Baca Selanjutnya





Cerita dari Si Ranu dan Si Meru bagian II

14 08 2010

4 Agustus 2010

Ranu Pane

“lo udah boker pe ?” tanya tumun ke gw

“belom dah , belom mau keluar nih ! ” jawab ringkas saya

satu per satu manusia bercarier tadi menyiapkan kembali bawaanya, sambil menikmati hangatnya kopi dari warung sebelah, ada pula yang sambil mengembat gorengan dari warung depan, begitu dingin pagi itu, dan kita semua menikmatinya.

“aih , apa itu ! ” gumam bathin ini

Ranu pane, sebauh sosok anggun di pagi hari, dengan pantulan refleksi dari mentari yang sanggup meneduhkan hati ini dari keegoisan duniawi.

“ah , ambil kamera, perlu di capture ini ” ucap gw

sambil melangkahkan kaki dalam dinginnya pagi, sambil menenteng sebuah kamera , saya berjalan menuju ke depan wc, niatan awal untuk membuang hajat, tetapi entah kenapa tidak bisa dikeluarkan, dengan sebatang rokok yang menyala, dengan asap kecilnya yang bergabung dengan kabut di desa itu.

“ckrek” bunyi kamera, indah tanpa catat. Refleksi bersih dari sebuah pemandangan yang anggun, dan memesona. Di balik rumah bapak Tumari, sudah banyak manusia yang mengantri untuk mengambil makanan, tentunya sebelum berangkat kita memerlukan makan terlebih dahulu. Rokok di tangan pun semakin mengigit jari, dibuangnya lalu melangkah kembali menuju rumah Bapak Tumari. “nice capture”

Akhirnya, kumandang lafaz tak berhenti berucap, manusia dari Jakarta ini melingkar untuk bersama-sama bertasbih meminta petunjuk Sang Maha Agung, meminta sedikit restu untuk sebuah keberhasilan perjalanan. Lafaz amin yang tak berhenti berucap, membuat getar bathin di dada, sambil terdengar suara itu, si Ranu dan si Meru pun berujar “mari sini sayangku“.

Tas berat itu sudah di punggung, lalu satu per satu mengabadikan diri di depan balai, di balai tersebut ada catatan sebuah peringatan. Sebuah catatan kematian yang terjadi di si Meru. si Meru pun berucap “Jika kalian menghargai aku, akupun akan menghargai kalian

Start Trek

Ini bukan judul Film, ini hanyalah gambaran awal dari sebuah proses panjang bernama “pendakian“. Satu per satu berpamitan kepada penduduk desa, untuk menuju si Ranu -sebuah danau eksotik di ketinggian 2600 mdpl- . Lagu dari Dewa 19 – Mahameru pun terucap di kerongkongan, hingga akhirnya hanya terucap di bathin, sebuah perjalanan yang sangat berat, dengan beberapa tanah yang sudah di beton, sangat panjang ternyata.

“jo, ini berhenti pertama” ucap gw, dari 15 menit awal pendakian

berat, sangat berat, punggung ini terasa berat , nafas pun menjadi tersengal. keelokan si Meru pun masih jauh untuk dapat di lihat.

“kalem aja, udah buru” ucap tujo.

Lagi – lagi istirahat, lagi – lagi nafas tersengal . Dedaunan yang masih hijau, ranting-ranting yang menyerupai terowongan, dan jurang dalam itu lah teman selama perjalanan. Jika hati menyiut, maka jalan pulang adalah pilihan utama, tapi sungguh terlalu semangat ini jika hancur begitu saja.

Langkah demi langkah di ayunkan, meskipun berat di punggung ini makin terasa, kabut tebal pun menghampiri, pohon cantik edelweiss pun telah terlihat dengan mata telanjang, jarak satu dan lain masih didapat.

“ah itu pos” ucap gw, entah itu pos apa, yang jelas di depannya Edelweis terhampar indah.

Perut berbunyi tanda lapar pun sudah berbunyi, tapi entah sampai kapan si Ranu itu menyemburkan sinarnya, hari telah menuju senja, sang kabut pun makin tebal dari detik ke detik, langkah kaki ini pun makin bersemangat untuk melanjutkan langkahnya.

Baca Selanjutnya





Cerita dari Si Ranu dan Si Meru bagian I

13 08 2010

Konon pada dahulu kala, dewa – dewa dari India kebingungan melihat pulau jawa yang terombang-ambing dalam lautan samudera, mulai dari situ, para dewa pun bersepakat untuk memaku jawa. Paku itu adalah Si Meru .

April 2010

Sekumpulan anak-anak di pojokan pertokoan di daerah Pamulang sedang berdiskusi dengan sangat asyiknya, ada yang hanya sedang mengepulkan asap dari batang rokoknya, ada pula yang hanya mengutak atik keypad hanphonenya. Cerita terorisme masih kental sekali pada waktu itu, ya sebab daerah ini pernah terjadi penembakan terhadap tokok teroris. (katanya sih begitu). Tetapi, rata-rata dari mereka masih sibuk mengobrolkan cerita tentang skripsi mereka masing-masing.

2 buah aqua gelas dateng , dibarengi oleh kedatangan 2 buah plastik isi Indocafe Coffemix. Makin panjang rupanya malam ini, mereka masih ngalur-ngidul untuk sebuah perjalanan mereka. Dan di bulan ini masih tak tertuntaskan niat mereka .

April – Mei – Juni terlalu cepat untuk dilalui dalam kesendirian di kota masing-masing, bocah-bocah tonkrongan pojok pertokoan di Pamulang itu pun masih terbersit dalam satu niatan tulus untuk bersama-sama. Ada yang mencoba untuk menyelesaikan tugas akhirnya, dan banyak pula untuk meraih angka index prestasi, dan masih ada pula yang berusaha untuk lulus dari ujian maut bernama UAN. Cerita-cerita di balik indahnya si Ranu dan si Meru dalam blog-blog makin membuncah di setiap kolom-kolom diskusi jejaring maya.

Juli 2010

Lagu dair Queen – Don’t Stop me Now tak berhenti-henti di putar dalam playlist winamp, tak lupa diikutsertakan lagu persembahan baladewa untuk Si Meru, terlalu senang mungkin si Meru dan Si Ranu, dinyanyikan oleh banyak manusia.  tapi tak apalah, paku dari dewa itu pun masih berdiri tegar disana, melihat anak-anak manusia yang punya nyali untuk menyentuhnya.

Tiap pagi, lagu ini tak berhenti untuk di dengarkan, terus meraung-raung dalam hangatnya pagi, dinginnya malam sebuah kota, Purwokerto. Kota indah sejuta pesona, yang sebentar lagi akan kalah oleh gegap gempita cerita dari si Ranu, dan si Meru. 2 buah tempat sepi yang dapat menghalahkan sombong dan angkuhnya seseorang, tempat mengikhlaskan diri ini untuk berpadu dengan alam, menghargai betapa sucinya sebuah perjuangan.

Agustus 2010

1 Agustus

“besok gw berangkat pagi jo, kalo ada check list alat yang lom ada, kabarin gw secepetnya” kata gw di ym itu

“oke” cepat bales tujo

“ga, kopi lo nih abisin, keburu adem bego, kaleng gw dimana” kata gw di kontrakan pada waktu itu

“itu gw taro di deket meja, laper dah, ntar sekalian gw bawa daypack gw ke kosan lo” balas lingga

“yudah berangkat dah ” tegas gw

Kosan itu tiba-tiba mendadak kotor, penuh dengan barang-barang yang tidak familiar untuk sebagian orang, mungkin akan bertanya-tanya, untuk apa semua itu.

2 Agustus 2010

Kereta Logawa mengantarkan kami ke Surabaya, banyak jajanan pasar didalamnya, ada bantal air, lempeng gapit, pecel, sampe gudeg, 1 manusia tambun dan 1 manusia jangkung tiba – tiba tergopoh untuk menaiki kereta ini, mereka baru saja tiba, karena kereta ini baru saja sampe kota mereka. Babab dan Petra namanya. Segala kesiapan fisik terlihat dari mukanya, dan nyali ini pun makin tertumpuk untuk menggapai cerita si Ranu dan si Meru.

Berbarengan, sekelompok manusia Pamulang makin mengejar-ngejar kereta kami, dari sana mereka berangkat , Stasiun Pasar Senen. Kelompok inilah yang akan membuat senyuman si Meru dan si Ranu makin menjadi-jadi, dan si Meru pun berbicara dengan lembut “hayo kemari, taklukkan kami

3 Agustus 2010

“bang, soto 1 udah plus nasi kan, berapa bang ? ” babab bertanya kepada tukan soto

“5.000 saja dek” jawab tukang soto

hidangan panas pun tersaji di depan mata, dengan asap panasnya yang lembut, sambil meniup-niup kecil kami pun memakannya, sembari menegok ke langit, melihat indahnya si Meru, ah tak terlihat. Tak lama, gerombolan manusia ber tas besar datang. mereka sangat bau asap rel, bau kemenangan atas 18 jam duduk manis di kelas ekonomi sebuah kereta api.

Hanya ada tawa, tawa, dan tawa, dan si Ranu dan si Meru pun tersipu-sipu oleh keceriaan kami, sambil  mengutarakan “cepat datang, maka kami akan menyambut kalian dengan suguhan terindah dari mata telanjang“.
Baca Selanjutnya





PUNCAK DEWA MAHAMERU 3676 MDPL

9 08 2010

yang mencintai udara jernih
yang mencintai terbang burung-burung
yang mencintai keleluasaan dan kebebasan
yang mencintai bumi
mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
mereka tengadah & berkata, kesanalah Soe hok Gie dan Idhan Lubis pergi
kembali ke pangkuan bintang-bintang
sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
sementara sapu tangan menahan tangis
sementara desemeber menabur gerimis
24 Desember 1969
Sanento Yuliman

dari langit mahameru

merah putih itu

In Memoriam Gie

Topo Semeru

Puncak abadi para dewa, begitulah menurut Dewa 19, dan nyanyian kesunyian itu tak ada artinya ketika semua nya menyaksikan pesona alam damai penuh gegap gempita, di sana, di PUNCAK JAWA ! Dipenuhi kabut tipis, dan selaras angin yang mempesona, begitu pula dengan bintang dan bulan sabit yang menyapa kami dengan keanggunannya, membuat perjalanan malam ini menjadi lebih bersemangat.

Berikut adalah daftar tim pendakian Gn. Semeru 3676 mdpl yang diikuti oleh berbagai latar organisasi yang antara lain : MOONPALA SMAN 2 Tangerang Selatan, Univ. Moestopo, Univ. Tirtayasa,  dan Univ. Atmajaya.

MOONPALA SMAN 2 Tangerang Selatan

  1. babab
  2. tujo
  3. tumun
  4. gonek
  5. mulet
  6. cugo
  7. gembul
  8. dogol
  9. topeng
  10. pusol
  11. salat
  12. ambon
  13. guling
  14. makelar
  15. obeng
  16. lapindo
  17. ratu
  18. telot
  19. bagunung
  20. dago
  21. seceng

Tim Tam

  1. Adit (Girigahana UPN Jakarta)
  2. Afif (Neppala SMAN 4 Tangerang Selatan)
  3. Lucky (Neppala SMAN 4 Tangerang Selatan)
  4. Lingga (Unosed)

Univ. Moestopo

  1. Adoy
  2. Tedo
  3. Anti
  4. Rani
  5. Petra

Univ. Tirtayasa

  1. Lay
  2. Binong
  3. Gonda

Univ. Atmajaya

  1. Erik
  2. dll (kurang lebih 4 orang)

Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.

Semeru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Posisi gunung ini terletak diantara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT.

Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang. (wikipedia)

Dengan segenap keikhlasan dan kesabaran akhirnya kami sanggup untuk melakukan perjalanan ini, berikut adalah Time Log (Train Log, dan Semeru Log).

Pada Train log ini, dibagi menjadi dua tim. Tim pertama dari Purwokerto – Surabaya – Malang. Tim kedua dari Jakarta – Malang.

TRAIN LOG
Senin, 2 Agustus 2010
Tim Pertama (cugo, babab, lingga, petra)

Purwokerto – Surabaya KA Logawa Rp. 30.500

06.00-09.00 Logawa sampai Jogjakarta
09.00-09.30 babab dan petra bergabung
09.30-11.15 Solo Jebres
11.15-11.46 Sragen
11.46-13.00 Madiun

Minum Es Dawet, takut ketinggalan kereta, lari-lari deh . mana jauh banget tukang es dawetnya lagi . es dawet Rp 2.000

13.00-14.23 Nganjuk
14.23-14.44 Kertosono
14.44-15.02 Jombang
15.02-15.36 Mojokerto
15.36-16.28 Wonokromo
16.28-16.39 Surabaya Gubeng

langsung ambil posisi ke jalur 1, untuk melanjutkan ke malang. Kami ber 4 berlarian ke arah penjualan tiket, menanyakan dan membeli tiket Penataran ke arah Malang. Dahaga mencekam coi ! Untung saja, PT. KAI memberi emudaha, kereta dengan waktu tercepat sampai ke malang, TELAT, dan kami akhirnya menggunakan jasanya tersebut

Surabaya – Malang KA Penataran Rp 4.500

17.19-17.25 Wonokromo
17.25-17.34 Waru
14.34-17.51 Sidoarjo
17.51-17.59 Tanggul Angin
17.59-18.12 Porong
18.12-18.24 Bangil

ini adalah pertigaan, ke selatan menuju Malang, ke Utara menuju Jember dan Banyuwangi

18.24-19.01 Lawang
19.01-19.13 Singosari
19.13-19.24 Belimbing

Stay, tanya angkot menuju kosan Albert (unibraw / temen lingga)

19.30 Angkot ADL hingga pertigaan jalan borobudur Rp 1.500
19.45-19.57 Angkot ABG menuju Jl. Kalpataru Rp 2.500

Stay, belanja untuk melengkapi logistik di Indomaret Kalpataru , menghilangkan dahaga, tapi ada masalah, perut laper coi !

20.12-20.18 Sampai kosan Albert, disambut Fermentasi Pisang (danco)
20.18-… Relax, menghilangkan Asap Rel Kereta, tidur

Tim Kedua (kecuali kami berempat) melakukan perjalanan dengan kereta api Matarmaja Rp 40.000, Tujo menyusul dari Stasiun Prujakan, di Solo Jebres, bertambah 4 orang , kawan-kawan dari tim Univ. Atmajaya.

MALANG LOG
Selasa, 3 Agustus 2010
04.30-05.00 Bangun, Sholat (berlaku untuk babab)
05.00-08.00 mandi, packing, ngopi, waste time
08.00-08.30 Menuju pertigaan jalan kalpataru
08.30-08.50 Angkot ABG Rp. 2.500 menuju Stasiun kota baru malang
08.50-09.05 Stay , drop Cariel, Cari makan, Lingga ke ATM
09.15 Tim Kedua dari Jakarta datang, bau asap rel dan body kereta api sangat melekat pada mereka, manusia bercariel lebih tepatnya !

Sampai disini, Time Log akan digabung dalam satu tim, dan memasuki Log Semeru

SEMERU LOG
09.15-10.30 Makan, menghilangkan Asap rel kereta api, tawar menawar angkot. Sempat terjadi kericuhan kecil antar sesama penawar jasa kepada kami, akhirnya dengan semangat dan keikhlasan yang kuat kami berjalan dahulu untuk menjauhi kericuhan semakin tinggi.
10.30-11.09 Packing Carier ke Mobil

11.09-11.33 Perjalanan menuju Desa Tumpang Rp 8.000
11.33-12.20 Waste Time, sempat terjadi angkot carteran yang ditumpangi Tujo mogok, tawar menawar Jeep dan Truck untuk menuju Ranu Pane, sampai di rumah pak laman (pengendara Truck)
12.20-13.00 babab dan ratu ke pasar, beli logistik hasil patungan yang dikoordinir oleh Dogol.
13.00-14.20 registrasi TNBTS oleh Tujo dan Gonek. Rp 10.000
14.20-15.00 Packing Carier ke Jeep. Rp 34.000

ini semua pindah ke jeep

15.00-17.00 Menuju Ranu Pane.
Rombongan dibagi 3 Jeep, topeng, gembul, gonek, sempat merasakan adrenalin di kap Jeep ! Jalanan Asoy maan, Kita foto-foto dulu selepas pertigaan yang ke arah Bromo.

itu bantengan

dokumentasi dulu sebelum nyampe ranu pane

ranu pane
17.00-17.30 Drop Carier ke Rumah Bapak Tumari.
17.30-20.00 Relax Time, Makan + ngobrol dengan bang agus (Ciputat)
20.00-… relax, Time for Sleep, Pokeran, Remian.

Rabu, 4 Agustus 2010
04.30-05.00 Bangun, Sholat Subuh (babab)
05.00-07.00 Ngemil Time, Ngopi, Relax Time
07.00-07.45 Re-Packing
07.45-09.08 Makan

Untuk makan malam hari lalu dan pagi hari ini, kami membayar per porsi Rp 8.000, sehingga ditotal Rp 16.000

09.08-09.20 Briefing, Berdoa, Dokumentasi
09.20 Berangkat menuju Ranu Kumbolo
Baca Selanjutnya