Cerita dari Si Ranu dan Si Meru bagian II

14 08 2010

4 Agustus 2010

Ranu Pane

“lo udah boker pe ?” tanya tumun ke gw

“belom dah , belom mau keluar nih ! ” jawab ringkas saya

satu per satu manusia bercarier tadi menyiapkan kembali bawaanya, sambil menikmati hangatnya kopi dari warung sebelah, ada pula yang sambil mengembat gorengan dari warung depan, begitu dingin pagi itu, dan kita semua menikmatinya.

“aih , apa itu ! ” gumam bathin ini

Ranu pane, sebauh sosok anggun di pagi hari, dengan pantulan refleksi dari mentari yang sanggup meneduhkan hati ini dari keegoisan duniawi.

“ah , ambil kamera, perlu di capture ini ” ucap gw

sambil melangkahkan kaki dalam dinginnya pagi, sambil menenteng sebuah kamera , saya berjalan menuju ke depan wc, niatan awal untuk membuang hajat, tetapi entah kenapa tidak bisa dikeluarkan, dengan sebatang rokok yang menyala, dengan asap kecilnya yang bergabung dengan kabut di desa itu.

“ckrek” bunyi kamera, indah tanpa catat. Refleksi bersih dari sebuah pemandangan yang anggun, dan memesona. Di balik rumah bapak Tumari, sudah banyak manusia yang mengantri untuk mengambil makanan, tentunya sebelum berangkat kita memerlukan makan terlebih dahulu. Rokok di tangan pun semakin mengigit jari, dibuangnya lalu melangkah kembali menuju rumah Bapak Tumari. “nice capture”

Akhirnya, kumandang lafaz tak berhenti berucap, manusia dari Jakarta ini melingkar untuk bersama-sama bertasbih meminta petunjuk Sang Maha Agung, meminta sedikit restu untuk sebuah keberhasilan perjalanan. Lafaz amin yang tak berhenti berucap, membuat getar bathin di dada, sambil terdengar suara itu, si Ranu dan si Meru pun berujar “mari sini sayangku“.

Tas berat itu sudah di punggung, lalu satu per satu mengabadikan diri di depan balai, di balai tersebut ada catatan sebuah peringatan. Sebuah catatan kematian yang terjadi di si Meru. si Meru pun berucap “Jika kalian menghargai aku, akupun akan menghargai kalian

Start Trek

Ini bukan judul Film, ini hanyalah gambaran awal dari sebuah proses panjang bernama “pendakian“. Satu per satu berpamitan kepada penduduk desa, untuk menuju si Ranu -sebuah danau eksotik di ketinggian 2600 mdpl- . Lagu dari Dewa 19 – Mahameru pun terucap di kerongkongan, hingga akhirnya hanya terucap di bathin, sebuah perjalanan yang sangat berat, dengan beberapa tanah yang sudah di beton, sangat panjang ternyata.

“jo, ini berhenti pertama” ucap gw, dari 15 menit awal pendakian

berat, sangat berat, punggung ini terasa berat , nafas pun menjadi tersengal. keelokan si Meru pun masih jauh untuk dapat di lihat.

“kalem aja, udah buru” ucap tujo.

Lagi – lagi istirahat, lagi – lagi nafas tersengal . Dedaunan yang masih hijau, ranting-ranting yang menyerupai terowongan, dan jurang dalam itu lah teman selama perjalanan. Jika hati menyiut, maka jalan pulang adalah pilihan utama, tapi sungguh terlalu semangat ini jika hancur begitu saja.

Langkah demi langkah di ayunkan, meskipun berat di punggung ini makin terasa, kabut tebal pun menghampiri, pohon cantik edelweiss pun telah terlihat dengan mata telanjang, jarak satu dan lain masih didapat.

“ah itu pos” ucap gw, entah itu pos apa, yang jelas di depannya Edelweis terhampar indah.

Perut berbunyi tanda lapar pun sudah berbunyi, tapi entah sampai kapan si Ranu itu menyemburkan sinarnya, hari telah menuju senja, sang kabut pun makin tebal dari detik ke detik, langkah kaki ini pun makin bersemangat untuk melanjutkan langkahnya.

Si Ranu (surga kecil di balik ramainya bukit)

Ada yang pulang, ada yang datang, begitu juga dalam pendakian ini, setelah bertanya-tanya kepada sesama pendaki lain,

“Si Ranu 10 menit lagi” ucap pendaki lain . “Yes”, makin semangat saja langkah kaki ini, dan pandangan mata yang hampir ilang arah, terperosok sempat ke dalam jurang kecil, sempat membuat nyiut kembali nyali ini. Untung saja ada kawan lain, di bantulah gw untuk berjalan lagi. Tanjakan kecil di lalui, turunan kecil di lewati, dan itu .. itu .. si Ranu, RANU KUMBOLO ..

haha ..

“RANU KUMBOLOOOOO” teriak gw

gonek telah bersiap dengan handycamnya, tanpa terasa, pantat ini telah menyentuh tanah. Ya, kami sudah di Ranu Kumbolo, tapi sayangnya, ini bukan tempat kami berteduh, menginap semalam untuk mengistirahatkan badan, masih ada tanjakan satu lagi untuk di lalui, tak apa.

Shelter, Ranu, dan Tenda

Babab sudah menyiapkan makanannya, ditemani oleh anak-anak muda dari Jakarta, menu hari ini katanya, Nasi plus ikan asin. Tampak sedap, di sana, di depan bibir air dari si Ranu, telah terpasang beberapa tenda, mereka punya niat sama dengan kami, menuju tempat abadi para dewa, itu loh si Meru namanya.

Makanan tersaji, malam pun semakin terang dengan bintang-bintangnya, shelter sebelah tampak ramai, dengan mainan barunya, sebuah air yang menghangatkan badan katanya.

Satu per satu telah selesai makannya, di gelarlah hamparan sleeping bag untuk sekedar menghangatkan badan. seperti di Lawu , seperti juga di Shelter ini, tikus pun asik mengusik tidur kami, gerutu kesal terucap dari mulet, gembul, dan topeng. Shelter sebelah pun masih tampak ramai, membicarakan permasalahan hati pada waktu itu. Sungguh lucu untuk didengarkan, yang letih bergegas tidur, walaupun anak-anak muda itu masih asyiknya memainkan 52 kartu dalam jemarinya. Secangkir kopi menghangatkan badan kami, dan tiga buah Indomie, tersaji kembali untuk menghangatkan badan, dan bintang di langit makin memesona makin malam. Angin kecil yang menusuk mengantarkan kami ke ranjang masing-masing. Larut dalam lamunan sebuah tanjakan dan si Meru pun berucap “taklukkan tanjakan di belakang kalian, dapatkan cinta kalian

5 Agustus 2010

Tanjakan Cinta

wahai tanjakan cinta, engkau berdusta
rupamu elok , membuat kaki ku dengklok

tertawa kami mendengar itu semua, tanpa beban, tujo mengucapkan kata-kata itu, si Ranu pun makin elok dengan sinar mentari diatasnya, sambil berangin-angin kita semua menunggu makanan datang, dari chef tercinta babab.

Ah, tanjakan cinta, kepada siapa hati ini nanti bicara. konon jika kita sanggup melewati tanjakan tersebut tanpa berhenti dan menghadap ke belakang, maka harapan yang disebutkan dalam hati akan dikabulkan, harapan tersebut adalah harapan kepada sang kekasih.

Ok. Carier sudah di punggung kembali, mari kita taklukkan tanjakan cinta

satu langkah dua langkah terlalui dengan mudah, licin terasa, tiga langkah mulai berat, langkah empat makin tak kuat, langkah 5, terlalu indah si Ranu jika tak dilihat. Berhenti gw . Batin ini telah mengucapkan satu wanita, yang semoga akan menjadi kekasihnya.

Carier-carier itu makin menjauh dari pandangan mata, barulah pada langkah ke seratus , menginjakkan kaki pada rerindangan, disitu telah menunggu gonek dengan handycamnya, topeng dengan kameranya, mulet dengan kameranya pula, mereka hunting . Gembul tidak terlihat, mungkin sudah melaju kencang di depan.

Tak lama berselang, rombongan anak bapak datang, mereka dari Cepu, betapa bahagianya mereka, bersama orang tua mendaki bersama, dan itulah impian dari Gonek kepada Tanjakan Cinta. Jika kelak punya anak, dan isteri, kelak ia akan menghampiri kembali si Ranu dan si Meru. Amin nek.

Oro-Oro Ombo

“itu padang mahsyar atau padang ilalang ?” ucap gw

Lega sekali melihatnya, di kanan bukit, di kiri bukit, di tengah – tengahnya ilalang ungu. takjub. indah. Dengan cepatnya, topeng mengcapture ketakjuban ini. Ujung Jalan ini adalah sana, tempat dedaunan rindang, itu dia awal trek dari Cemoro Kandang .

Tapak demi langkah menyusuri ilalang, seram juga jika ada ular yang keluar,  cerita dari bang agus pun masih teringat, bagaimana jika macan tutul datang. Kalimat “bismillah” itu pun terucap sekali lagi dan tapak kaki ini makin mendekat kepada dedaunan rindang, disana telah menanti gembul, tumun, dan mulet, di belakang gw masih ada tujo, gonek, dan topeng, yang telah menghilang dari dedaunan rindang ini adalah babab bersama anak-anak muda luar biasa. Kawan-kawan lain seperti afif, lingga, dan adit tampaknya sedang mengatur nafas, sama dengan gw .

Cemoro Kandang

Inilah tempat Genta 5 Cm menghilang, sudah tidak rindang seperti kemarin kami lihat, kebakaran hutan pada tahun 2005 tela menghancurkan gelapnya. Jalur masih terlihat dengan jelas, dan rombongan pendaki lain pun makin bersama-sama dalam keakraban si Meru, seraya hati berucap, untuk terus melangkahkan lagi kaki menuju Arco Podo.

Rasa lapar yang sangat terjadi pada kami saat mengakhiri hutan cemara lebat ini, nasi uduk ternyata tidak baik untuk dikunyah. Beberapa mulai menunjukkan gejala lemas, sama halnya gw alami, dan tempat lega ini adalah tempat yang pas untuk berbincang-bincang sepertinya, anak-anak muda itu bersama babab telah entah kemana, tak terjekar.

Hutan ini membuat raga semakin dingin, kabut yang sudah turun makin membuat langkah gontai untuk menuju kalimati, tempat persinggahan untuk mengambil air sebelum ke si Meru, saat itu mungkin masih siang, tapi angin dingin yang menusuk, serta perut lapar yang masih tak tertahan untuk diisi kembali. Bergegas kita menyusuri turunan, lalu di sambut lagi oleh sebuah tanjakan panjang hingga Jembangan.

“kalimati itu seperti surken” ucap tujo, ya benar, itu dia kalimati, dengan tanah yang terlihat, hanya pasir-pasir berbuih putih yang diinjak, itu dia di kanan, sang agung si Meru, bukit kepolo pun telah terlewati, dan itu dia tim kita bersandar pada pohon-pohon rindang disana. Bergegas langkah ini untuk sampai kesana.

2 anak muda sedang mengambil air di sumber mani, kalimati. Untuk perjalanan malam malam ini. angin semilir semakin bertiup, berat carier yang telah diisi 8 liter air pun kini di tambah oleh 3 liter kembali, semakin berat saja punggung ini untuk menggendongnya. Sementara yang lain sedang melanjutkan ke Arco Podo, sebatang rokok pun di nyalakan untuk mengisi masa menunggu ini. Angin itu membawa dingin, dan si Meru pun kembali tersenyum “kalian jadi datang kan, malam ini ?” tukasnya . Tak lama, adoy, rani, anti, petra,  tedo, lay, gonda, binong, salat, dan pusol pun sampai ke kalimati, sambil berbicara. “kami ngecamp disini saja”

Arco Podo

Bathin ini tidak ingin melihat arco podo, setelah mendengar ucapan dari bang agus di rumah bapak Tumari. Raga ini hanya punya semangat untuk melihat dari dekat si Meru. Semangat itu yang hanya gw punya, dan itu mampu mengantarkan sampai Flying Camp arco podo, badan yang tak punya energi , kaki yang sudah gemetar menahan berat beban, meninggalkan saya sebagai orang terakhir menuju pintu si Meru, pergantian posisi carier ke Tujo pun , sedikit meringankan beban di punggun ini, hingga akhirnya , tenda – tenda itu terlihat, sambil teriak berkesal-kesal “babaaaaaaaaaaaaaaaaab”

di bawah tanjakan kelik, ada semacam lapang, dan disitulah kami bermalam, terlalu tinggi, itu Flying Camp Arcopodo II bagi kebanyakan yang telah mendaki si Meru. Trek yang sangat mirip dengan bapa tere di Ciremai ini makin mantap dengan balutan pasir-pasirnya. Sangat lelah.

Otak pun semakin cepat untuk berfikir, membereskan tenda, mengatur posisi tidur, sambil mengatur barang-barang untuk dibawa ke puncak dewa, si Meru pun terisak oleh langkah kaki kami sambil berucap, “nikmati malam tidur kalian, dan bintang-bintang pun akan saya kirim menemani perjalanan kalian ke saya“.

Bersambung


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: