Purwokerto bagian II

24 04 2011

Gang sempit, turunan tajam, dan sebelah sisi kiri tempat itu berada. Hanya ada dua manusia yang tinggal di dalamnya. Seorang kawan dengan seorang ibu yang mencintainya. Disitulah biasanya saya menghabiskan akhir pekan, sekedar untuk melihat film-film rilis terbaru, atau sekedar melihat tontonan basi yang tak bosan-bosan.

Purwokerto siang ini masih pekat, sama seperti pagi hari yang sudah menjadi kebiasaan. Akhir-akhir ini memang seperti ini, terkadang hujan turun tidak terduga, meski terang selalu datang sebelum jam 12 siang. Entah mungkin dejavu atau gimana ? Setiap melewati Jl. HR. Bunyamin (nama jalan tempat UNSOED berlokasi) selalu hujan, dan parahnya lagi setiap melewati depan FISIP UNSOED, pasti hujan makin deras rasanya. Aneh!!!

Aargh, perut lapar rasanya malam ini. Ada satu tempat yang bisa untuk sekedar memanjakan mata di depan sajian bakwan besar seharga Rp 1000, atau bisa juga menikmati orang-orang makan Indomie goreng dicampur Nasi. Tempat ini sangat direkomendasikan bila kalian ingin ke Purwokerto.

Pertama, SORJEM alias Ngisor Jembatan. Disini kalian akan makan di sebuah selasar depan jalan raya, berlokasi persis di bawah jembatan yang menuju Stasiun Purwokerto. Dengan hanya mengeluarkan Rp 4.000 kita sudah dapat menikmati Nasi+Sayur+Gorengan. Gorengannya bisa bakwan, mendoan, atau tahu isi. Suer Nampol coi !! Ga perlu ngeliat siapa aja yang makan, yang penting hasrat perut lapar tuntas😀 . Nah disini, kalian bisa bertemu dengan siapa saja, makanan ini murah, tapi ga murahan. Inilah seni rasa tinggi yang dijunjung oleh Purwokerto. Dijamin bersih, dan pedagangnya adalah dua orang yang saling bersaudara, bergantian shift setiap 1 bulan.

Kedua, Nasi Oplos, penikmat nasi goreng dan mie goreng silahkan mampir disini, dengan Rp 4.500 perut dijamin ga bakal kuat diangkat! Ditambah mendoan dan segelas es teh dijamin keringetan tuh badan abis makan. Nasi oplos ini atau yang biasanya dikenal nasi orak-arik ini udah pernah diliput di koran, tapi saya ga bisa hadirkan disini, karena ga ketemu-ketemu artikelnya. Dikelola oleh satu keluarga, dan berlokasi di dekat GOR Satria. Rutenya, kalo mau kesini memang agak ribet. Dari pertigaan DKT belok kiri, terus ada pertigaan kekanan. Nah disitu ada toko sepatu (lupa namanya :P) langsung belok kiri, susurin jalan, pas tikungan ikutin yah jangan lupa, nah ntar ada gang kecil gitu belok kiri, lgsung deh ketemu. Makanan ini selalu abis tiap harinya, selain murah emang ngenyangin deh.

Di Purwokerto, kalian jangan takut kehabisan duit untuk makan, disini Iga bakar worth it aja cuman Rp 18.000, emang sih mahal untuk ukuran kantong mahasiswa seperti saya, tapi ga ada salahnya mencoba sekali-kali. Bahkan ada yang berani menjual Iga Bakar seharga Rp 10.000, tapi kecile pooool.😀

Lain kali halaman ini akan saya edit untuk memasukkan gambaran mengenai kedua jajanan rakyat tersebut.

Purwokerto itu kota adem, kota yang jarang dilanda nestapa, kota yang jarang dilanda keegoisan masayarakatnya. Bahkan, plang Ahmadiyah masih berdiri tegar di kota ini, bagaimana di kota-kota lain! Pengamatan saya, hanya plangnya saja yang berdiri, tapi mesjidnya sudah ga ada yang mengisi. Bukan urusan saya lah😀

Mari ke Purwokerto!


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: