mana guruku, mana bukuku ?

22 01 2011

kamis, 20 januari 2011.

Seminar hari ini sepertinya bakal berbeda seperti biasanya, mungkin saatnya seseorang profesor dengan doktor akan bertemu, satu meja. satu mendampingi sang pemateri, satu menguji.

Saat itu masih pukul 07.00, cukuplah untuk menyuap nasi ke dalam perut, unuk mengganjal rasa lapar. Materi power p[oint telah disiapkan, laptop telah tersedia. Ok. It`s time to go to campus.

Pukul 08.00, dikejutkan diri ini ketika sang profesor telah datang, semangatnya yang masih muda meski umur sudah tidak terlalu muda, membuat saya malu. Hari yang baik untuk menjelaskan tentang tugas akhir saya ini (dalam hati). Pintu ruang seminar telah terbuka, bertepatan dengan si pemegang LCD jurusan telah datang. (makin manteb aja).

jam 09.00 nanti, seminar ini akan dimulai, nanti di dalam ruang seminar itu akan ada 4 tingkatan pendidikan: profesor, doktor, magister, dan sarjana.Mungkin tepat kiranya, untuk mengantarkan sebuah catatan kelam di negeri ngeri ini, kemiskinan namanya.

Segalanya telah siap, dari materi power point, dan satu persatu teman-teman memasuki ruangan, untuk mendukung saya di ruangan ini. Satu kulit pertumbuhan ekonomi dikupas, melihat determinasinya terhadap kemiskinan, statistik nyata telah diperlihatkan, terlihat sang penguji geleng-geleng (entah apa yang ada di dalam pikirannya). Kulit kedua dikupas, kualitas sumber daya manusia namanya, melihat determinasinya terhadap kemiskinan. Statistik nyata menunjukkan gairah di ruangan, pendidikan dan kesehatan memiliki pengaruh besar untuk mengurangi kemiskinan. Sampai sini segala sesuatu berjalan dengan baik-baik saja.

Penjelasan telah terucap, saatnya time for examiner.

Saya semakin tegang, dimulai dengan perbincangan yang tidak penting, mengenai umur pembimbing dan penguji yang tidak terlampau berbeda. Pertanyaan hampir tidak beda dengan pernyataan, hingga pada kesimpulannya, tidak berlaku lagi teori Prof. Simon Kuznet di Indonesia (dengan kata lain, ketimpangan pendapatan bukan ukuran kemiskinan).

Sampai sini, terlihat ada perbedaan persepsi. Satu melihat dari demografi, sang pembimbing melihat dari arah pembangunan.Tapi demografi bukan konteks yang di maksud dalam tugas akhir ini, lalu apa yang seharusnya di jadikan buku, lalu siapa yang harusnya dipercaya untuk dijadikan teori, lalu bagaimana nasib penelitian terdahulu ynag digunakan acuan ? (siapa yang seharusnya, masuk kotak pengkibirian di sini ?)

Ketidakmengertinya mengenai tahun penelitian yang di anggap terlalu pendek, sudah jelas di jelaskan. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga setiap opini yang terlontar, bisa dianggap teori yang telah memenuhi beberapa syarat. Entah ! Tapi hati ini masih yakin, orang miskin, akan dapat berubah dengan sendiri menjadi tidak miskin, jika ada suatu segi pendidikan, dan kesehatan . Oleh karena itu dana untuk kedua pembentuk SDM itu sangat penting.

Dilematis ? Nilai, dan Target Februari ! Semangat saja

 

 

 


Aksi

Information

2 responses

28 01 2011
Sya

Wah seminar ya Mas? Jadi kapan wisudanya?

31 01 2011
Aditya Dwi Prasetyo

baru seminar, belum ujian skripsi, belum juga pendadaran … penguji nya sakit jiwa pula … hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: