Cerita Sang Jaket Merah

14 10 2010

Kuucapkan selamat malam untuk semua kawan
Hanya ingin berbagi cerita suka dan duka , dalam sebuah kehangatan kopi panas dan kehangatan dari sebuah canda.
Yang terputar bersama sebuah angin malam dari kota yang merindukan, Purwokerto namanya.

Pertama-tama kuliah disini, kita pernah menjejalkan kaki di kota budaya, Jogjakarta. Semua masih muda, semua masih tak kenal satu sama lain. Melangkah pasti untuk sebuah kesuksesan bersama di masa depan (masa kini).

Tak terasa, kita masih bisa menjejalkan kaki kepada daerah lain, meskipun tidak tahu apa itu tempatnya, yang pasti kita bisa merasakan nikmatnya dingin dan permadani hijau dari puncak sakub (2.042 mdpl).

Meskipun gunung tinggi tak dapat diraih hingga kini, setidaknya kita pernah merasakan bersama panasnya pantai pangandaran, panasnya atmosfer dalam gedung G untuk melawan birokrat, nikmatnya berbahasa di pelataran baturaden.

Suka, duka pernah kita jalanin bersama, cinta lokasi pernah melanda pula, adapula yang berkelahi demi rokok semata. Tapi semua itu masih terasa hangatnya hingga kini, entah sampai kapan.

Yang pasti kita masih punya tujuan, yakni lulus bersama, sehingga kenangan dalam balutan jaket merah itu tetap terpendam, terus terkenang, sehingga semuanya itu menjadi manis dalam setiap memori otak.

Masih ada satu rencana, tapi tak perlu diutarakan sekarang.
Masih ada banyak cerita yang bisa diceritakan, yang tak perlu diceritakan sekarang.
Masih banyak kisah lainnya yang tak muat dalam cerita ini.

Sebuah jaket mampu menyatukan kita bersama, meskipun tak mampu untuk menemukan hati dari masing-masing setiap teman, tapi setidaknya satu teman dari kita, mampu menggantikan teman lain. Walaupun kita tidak pernah menduduki bersama-sama posisi penting dari poros mahasiswa, tapi setidaknya kita tidak kalah dengan mereka yang mengidolakan posisi tersebut, karena kita selalu dapat menerima apa yang kita peroleh, kita selalu bisa melaksanakan apa yang dipertanggungjawabkan oleh orang lain.

Kita bisa kawan, kita bisa untuk bercita-cita, karena kita manusia biasa yang selalu dilingkarin oleh mimpi-mimpi.

Terlepas dari itu semua, kita perlu lulus untuk membuktikan kepada orang tua, bahwa kita bukan semena-mena dalam membuang uang yang mereka berikan, bukan semena-mena dalam setiap waktu yang terbuang, tapi membuktikan bahwa setiap menit bersama, kita adalah manusia yang selalu bermimpi, untuk menjadi besar di kemudian hari, menjadi para pemimpin dari mahasiswa yang selalu berlingkar dalam kepentingan birokrasi.

Satu Jiwa
Iesp Internasional 2006


Aksi

Information

2 responses

26 10 2010
Fram

salut buat kawan satu ini..kita yang masih berbalut almamater selalu mendo’akan kau wahai sobat….benar apa yg kawan ucapkan…disini kita juga terus bermimpi dan terus bermimpi akan masa depan yang kami jalani,,,,,,

takan pernah lelah rasa ini menggapai mimpi-mimpi yang terus menyelimuti pikiran,
takan pernah lelah

26 10 2010
Aditya Dwi Prasetyo

kredit +1 for you pram

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: