Cerita dari Si Ranu dan Si Meru bagian I

13 08 2010

Konon pada dahulu kala, dewa – dewa dari India kebingungan melihat pulau jawa yang terombang-ambing dalam lautan samudera, mulai dari situ, para dewa pun bersepakat untuk memaku jawa. Paku itu adalah Si Meru .

April 2010

Sekumpulan anak-anak di pojokan pertokoan di daerah Pamulang sedang berdiskusi dengan sangat asyiknya, ada yang hanya sedang mengepulkan asap dari batang rokoknya, ada pula yang hanya mengutak atik keypad hanphonenya. Cerita terorisme masih kental sekali pada waktu itu, ya sebab daerah ini pernah terjadi penembakan terhadap tokok teroris. (katanya sih begitu). Tetapi, rata-rata dari mereka masih sibuk mengobrolkan cerita tentang skripsi mereka masing-masing.

2 buah aqua gelas dateng , dibarengi oleh kedatangan 2 buah plastik isi Indocafe Coffemix. Makin panjang rupanya malam ini, mereka masih ngalur-ngidul untuk sebuah perjalanan mereka. Dan di bulan ini masih tak tertuntaskan niat mereka .

April – Mei – Juni terlalu cepat untuk dilalui dalam kesendirian di kota masing-masing, bocah-bocah tonkrongan pojok pertokoan di Pamulang itu pun masih terbersit dalam satu niatan tulus untuk bersama-sama. Ada yang mencoba untuk menyelesaikan tugas akhirnya, dan banyak pula untuk meraih angka index prestasi, dan masih ada pula yang berusaha untuk lulus dari ujian maut bernama UAN. Cerita-cerita di balik indahnya si Ranu dan si Meru dalam blog-blog makin membuncah di setiap kolom-kolom diskusi jejaring maya.

Juli 2010

Lagu dair Queen – Don’t Stop me Now tak berhenti-henti di putar dalam playlist winamp, tak lupa diikutsertakan lagu persembahan baladewa untuk Si Meru, terlalu senang mungkin si Meru dan Si Ranu, dinyanyikan oleh banyak manusia.  tapi tak apalah, paku dari dewa itu pun masih berdiri tegar disana, melihat anak-anak manusia yang punya nyali untuk menyentuhnya.

Tiap pagi, lagu ini tak berhenti untuk di dengarkan, terus meraung-raung dalam hangatnya pagi, dinginnya malam sebuah kota, Purwokerto. Kota indah sejuta pesona, yang sebentar lagi akan kalah oleh gegap gempita cerita dari si Ranu, dan si Meru. 2 buah tempat sepi yang dapat menghalahkan sombong dan angkuhnya seseorang, tempat mengikhlaskan diri ini untuk berpadu dengan alam, menghargai betapa sucinya sebuah perjuangan.

Agustus 2010

1 Agustus

“besok gw berangkat pagi jo, kalo ada check list alat yang lom ada, kabarin gw secepetnya” kata gw di ym itu

“oke” cepat bales tujo

“ga, kopi lo nih abisin, keburu adem bego, kaleng gw dimana” kata gw di kontrakan pada waktu itu

“itu gw taro di deket meja, laper dah, ntar sekalian gw bawa daypack gw ke kosan lo” balas lingga

“yudah berangkat dah ” tegas gw

Kosan itu tiba-tiba mendadak kotor, penuh dengan barang-barang yang tidak familiar untuk sebagian orang, mungkin akan bertanya-tanya, untuk apa semua itu.

2 Agustus 2010

Kereta Logawa mengantarkan kami ke Surabaya, banyak jajanan pasar didalamnya, ada bantal air, lempeng gapit, pecel, sampe gudeg, 1 manusia tambun dan 1 manusia jangkung tiba – tiba tergopoh untuk menaiki kereta ini, mereka baru saja tiba, karena kereta ini baru saja sampe kota mereka. Babab dan Petra namanya. Segala kesiapan fisik terlihat dari mukanya, dan nyali ini pun makin tertumpuk untuk menggapai cerita si Ranu dan si Meru.

Berbarengan, sekelompok manusia Pamulang makin mengejar-ngejar kereta kami, dari sana mereka berangkat , Stasiun Pasar Senen. Kelompok inilah yang akan membuat senyuman si Meru dan si Ranu makin menjadi-jadi, dan si Meru pun berbicara dengan lembut “hayo kemari, taklukkan kami

3 Agustus 2010

“bang, soto 1 udah plus nasi kan, berapa bang ? ” babab bertanya kepada tukan soto

“5.000 saja dek” jawab tukang soto

hidangan panas pun tersaji di depan mata, dengan asap panasnya yang lembut, sambil meniup-niup kecil kami pun memakannya, sembari menegok ke langit, melihat indahnya si Meru, ah tak terlihat. Tak lama, gerombolan manusia ber tas besar datang. mereka sangat bau asap rel, bau kemenangan atas 18 jam duduk manis di kelas ekonomi sebuah kereta api.

Hanya ada tawa, tawa, dan tawa, dan si Ranu dan si Meru pun tersipu-sipu oleh keceriaan kami, sambil  mengutarakan “cepat datang, maka kami akan menyambut kalian dengan suguhan terindah dari mata telanjang“.

Urusan menuju si Ranu dan si Meru pun selesai, angkot-angkot biru itupun mengangkut satu per satu , beberapa batang rokok dihabiskan, dan hari itu pun dalam setiap bathin terus berucap “bismillah” . Si angkot melaju kencang, membawa kita ke sebuah dataran tinggi desa Tumpang, desa akhir sebelum menaiki truk atau jeep yang akan kita sewa. angin semilir dan pertanyaan yang tiada akhir kepada tujo mengenai kisah si Meru. Tak ada yang tertidur lelap, yang ada hanya penyambutan kepada tempat keikhlasan, sebuah cerita dari segala awal si Ranu dan si Meru.

Desa Tumpang

bau – bau si Ranu dan si Meru makin terasa di hidung ini, tiga buah jeep tersedia di depan mata, mengangkut peti-peti tas yang membawa logistik dari seluruh tim, mengangkut para gerombolan manusia dari Jakarta untuk menggapai angan-angan di sana, untuk membawa balik kisah-kisah dari si Meru, si Ranu pun terisak oleh semangat itu, maka semilir hujan pun menyertai kami dalam perjalanan di dalam Hard-Top ini. kegagahan si Meru pun makin menjadi-jadi, sekelebat kabut mengganggu kami untuk menyaksikannya. Sungguh terlalu si Meru, dan si Meru pun berkata “inilah Ujian untuk kalian” . Semangat anak muda itu pun makin menjadi-jadi, ada yang duduk di depan hard-top(topeng, gonek, petra, adoy, dll). Kawasan Bantengan nan indah dengan savananya terhampar luas pun makin memanjakan mata ini, benar kata si Ranu, memang terlalu indah tanah ini, tak ada tandingannya.

Rumah bapak Tumari (sebuah peringatan awal, sebuah cerita romantis dibalik Arco Podo)

kontur muka keras , rambut berombak panjang ke bawah, bang Agus namanya. Dalam hangatnya dapur rumah itu, sebilah kayu bakar telah disiapkan, ia bercerita dengan selaras perjalanan Gie, saat pengevakuasian kematiannya pada tahun 1967 lah, bapak tumari merupakan salah satu yang mengevakuasi. lanjut ceritanya, bak Soedirman dalam medan perang, begitu pula dengan Gie, kematiannya di evakuasi dalam keranda duduk, dan Gie berduduk disana. Sambung ia pula, dahulu Mapala UI (Gie, idhan L, Herman L, Aristides) menyambut si Meru melalui kali didaerah Coban Pelangi lalu ke puncak Ayek-Ayek-menuju si Ranu, lain hal dengan Wanadri, yang kini menjadi jalur pendakian resmi.

Dengan segelas cokelat panas yang dioper dari satu ke satu tangan menemani cerita malam itu, dan si Ranu pun makin magis untuk dihampiri, dibalik ramainya cerita si Ranu, ada yang menyembul ke permukaan untuk didengarkan, cerita mistis dari si Arco Podo . Patung kembar Ganesha yang konon merupakan petilasan dari zaman Majapahit ternyata bapak Tumari mengetahuinya, dan tidak sebesar yang dikisahkan pada 1 buku yang menjadi pegangan kami semua waktu itu. Bersama Herman Lantang, Bapak Tumari menunjukkan bongkahan Arco Podo tersebut, ada satu peringatan dari cerita bang agus “memilih bertemu Arco Podo berarti tidak mendapatkan Mahameru, memilih Mahameru berarti tidak menemukan Arco Podo” lalu pilih mana ?

Mendengar cerita ini, si Meru pun tertawa sambil berujar “hayo, silahkan saja, tentukan pilihanmu sekarang juga

Malam itu semakin larut, pemandangan di luar sudah gelap, yang ada hanya teriakan manusia-manusia muda sambil meanrik beberapa receh dari teman-temannya. tak apa, toh mereka bersemangat sekali untuk menghangatkan malam ini. beberapa sudah mendengkur, dan ucapan “bismillah” itu pun terucap sekali saja, karena besok kami akan menuju si Ranu, dan si Ranu telah menyiarkan pesonanya dalam keajaiban Ranu Pani (2100 Mdpl) . sebuah danau anggun, dan memesona. seloroh hati pun bergumam, yang ini saja cantik bagaimana si Ranu !

Bersambung


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: