Ujian Nasional : masa depan vs realitas

19 03 2010

Ujian Nasional, tak pernah berhenti permasalahn didalamnya. Mengapa ? Kontroversi ini berawal dari pendirian Departemen Pendidikan Nasional, untuk meningkatkan akreditasi pendidikan bangsa Indonesia, sehingga dapat disejajarkan dengan pendidikan di negara maju sana. Berawal dari sinilah lalu saling mengkait-satu sama lain jeruji masalah ini.

dokumentasi I-Stock

Saya sempat merasakan ujian nasional, tepatnya tahun 2006, waktu itu ukuran standar kelulusan adalah 3,5 tiap mata pelajaran yang di UAN kan dan standar rerata 4,5 atau 5 (agak lupa).

Pendidikan bermutu yang diinginkan Depdiknas adalah dengan mengujiankan 3 mata pelajaran dahulu – kini mata pelajaran sesuai dengan penjurusannya – dengan batas ambang nilai minimal. kurang dari itu, Anda tidak lulus alias tidak berkompeten sebagai lulusan pendidikan di Indonesia.

Sudah Terbuktikah ??


Tidak, jikalau tidak lulus, Anda dapat mengulang ujiannya dengan sertifikasi, ada kejar paket A untuk SD, B untuk SMP, dan C untuk SMA. inilah yang dimaksut dengan penyetaraan.

As we know..

Pendidikan di Indonesia meungkin bisa dikatakan jauh sekali dengan pendidikan di negeri seberang sana. Tapi itu hanya sebatas data empiris yang mungkin hanya lewat perhitungan statistika. Bukankah dengan sistem pendidikan lama, kita telah menghasilkan orang sekelas Prof. BJ. Habibie, Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri (seorang profesor termuda dalam sejarah UI), Iwan Fals, Shandy Sundoro (walaupun kini ia menetap di Jerman), Andreas Raharso (Pria berusia 44 tahun itu saat ini menduduki pimpinan atau CEO pada sebuah lembaga riset global Hay Group), dan sebagainya.

Berdasarkan nama-nama diatas, pendidikan di Indonesia dapat kita simpulkan hanya berdasarkan kepuasan nilai dari sebuah instansi untuk kebanggaan nasional, bukan untuk memerdekakan mereka. Seolah-olah akibat adanya UN, bangsa Indonesia akan semakin gahar dimata dunia. Bukankah tahun 1989, kita telah mengirimkan peserta olimpiade matematika ya… lihat di sini

Ya, mungkin pemikiran Depdiknas adalah jika kita mengikuti standar internasional maka kita akan mampu bersaing dalam era teknologi selanjutnya. Bukankah ukurannya menjadi mampu atau tidak kan ? mengapa tidak bangun saja sekolah teknologi, atau dukung universitas-universitas dalam negeri sebagai kepemilikan nasional secara nyata. Dengan begitu, keadaan mampu atau tidaknya, akan tepat pengukurannya, sehingga tidak ada rasa kekecawaan diantara guru-murid, yang mungkin haru tangisan dan bahagianya akan bercampur di 1 bualn ke depan ini.

Mungkin kenyataan sekarang masih menunjukkan betapa buruknya mental siswa dan guru di Indonesia, kalo memang ini tujuan diadakannya UN, saya anggap tepat. Bukan asal omong, banyak siswa yang tidak siap menghadapi UN, bunuh diri. Guru-guru bak dicocok oleh kepala sekolah untuk bersedia membocorkan soal-soalnya. Lalu kita sebagai pemerhati sosial terutama civitas akademika pendidikan tinggi, akan menuntut siapa kalo keadannya jadi begini !

Keadaan inilah yang patut diperhitungkan oleh sebuah instansi bernama Departemen Pendidikan Nasional. Masih banyak kerancuan dalam sistemnya, desentralisasi fiskal akibat otonomi daerah juga mempengaruhi kualitas pendidikan daerah. Pernah kita mendengar 1 kabupaten tidak lulus semua ! Lalu mau dikemanakan mereka, MENGEJAR PAKET KAH !!!

Ahhh,,, For Your Info

Kejar Paket adalah penyetaraan, tapi bagi saya inilah bagian dari kepanjangan birokrasi pendidikan kita. Siswa yang tidak lulus, lalu akan mendaftar ke sekolah penyetaraan, biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.

Dari tulisan diatas sudah kentara beberapa efek domino dari UN itu bagaikan angin badai yang menggulung-gulung, bukan sebuah solusi dari angin badai yang sedang menerpa bansa ini. Bangsa ini perlu sebuah pemikiran logis untuk mengejar ketertinggalannya. Contoh : majukan pendidikan bangsa dengan moral, majukan anak bangsa dengan kegiatan membaca, majukan anak bangsa dengan informasi (lagi-lagi umpatan untuk koneksi internet yang paraaah :evil:), persiapkan tenaga didik lokal yang berkualitas dan mumpuni didalam bidang penelitian dan pengembangan IPTEK, dan tentu saja pengembangan pendidikan yang Indonesia Banget (sekolah alam, dan sebagainya)

This article  does not justify the Education Ministry, is also not to increase the burden of students and teachers of this UN 2009-2010..

good luck my friend. hopefully pass the Exam


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: