Pamulang

31 01 2010

Dulu terkenal, kini tenggelam. Sebuah paradoksial kota urban di selatan Jakarta ini. Ya, begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi Pamulang kini. Ruang-ruang gerakan seseorang telah bergerak menuju ke selatan lagi, ke arah kota satelit itu BSD namanya. Tak jauh dari lokasi urban ini pun, sekilas sebagai tempat memarkir relaksasi sejenak, sekedar tidur mungkin lebih tepat untuk dikatakan. Ya, Pamulang, dari dahulu sudah terkenal dengan lokasinya yang strategis untuk petugas kantoran Jakarta Raya. Tempat istirahat dari sibuknya rutinitas harian demi sebuah kapitalisasi hidup.

Pamulang, dulu disini banyak anak-anak SMP Negeri berteriak bersamaan usai kelar jam pelajarannya. Mereka berkumpul rapi di segitiga yang tidak mirip segitiga, karena memang disana tidak ada segitiga tetapi hanyalah bundaran. Tak lama setelahnya, datanglah beramai-ramai bocah-bocah putih biru bercelana pendek dari MTS yang tak jauh dari SMP negeri terkenal tersebut. Tak lama beberapa layangan ranting dan sibakkan sabuk itu berputar, bersamaan dengan teriakan wanita yang kocar-kacir kesana kemari setelah si MTS tersebut datang.

Pamulang, dulu aku mengantarkan orangtuaku kedepan, ke tempat yang namanya Portal, hanya untuk sekedar mengejar angkot yang seperti semut berkerumun. Kini Portal itu sama saja, tak ada bedanya, malah makin banyuak semut-semut biru suatu berita nasional partisan yang saling menunggu antrian.

Ah, tak lama aku mengalami de javu ini, sekedar menikmati udara sore Pamulang, tempat ku beristirahat dari rutinitas kampus yang membuat badan kering. Gedung tua megah didepan jalan raya nasional itupun, telah usang. snagat usang kawan. Tidak ada gelaran teater seperti biasanya, yang ada hanya sebongkah asbes tersusun untuk perbaikan gedung di sebelahnya. Dulu aku rela-rela mengantri dengan kedua orang tua hingga ke teras luar, demi Power Ranger. Sangat lucu membayangkan hal tersbeut, tidak ketinggalan dingdong yang selalu setia menemani sebelum dimulainya gelaran teater.

Lupakan saja, dan hujan yang terus mengguyur ini makin mengingatkan ku dengan kejadian beberapa tahun lalu, ketika aku dan kawan-kawan menikmati kebanjiran di depan Danau, disitu pernah banjir kawan. Tidak tersedot perhatian media saja, untung batinku, jika tidak, sudah hampir seperti kerabatnya si danau saja nanti alias Si Situ Gintung.

Paling, dan palingkuingat setelah kejadian menyebalkan tadi sore, Banjir di Blok AE, sudah berkali-kali eksavator menari-nari di bongkahan sungai itu, tetap saja, jika Katulampa sudah beralarm, bismillah sudah banjir akan datang, dan lagi-lagi aku hanya menikmati itu, tidak pernah merasakan penderitaannya. Keheninganku malam ini, akibat kisah menyebalkan sore tadi, dan semoga Pamulang tidak seperti dahulu, tapi seramai dahulu.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: