Pendidikan sebagai Humanisasi Manusia

8 01 2010

Untuk Lomba Blog UII (Universitas Islam Indonesia)

Pendidikan merupakan jalan menuju pembebasan permanen dan terdiri dan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah masa dimana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka, yang melalui praksis mengubah keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap yang pertama, dan merupakan sebuah  proses tindakan kultural yang membebaskan.

(Paulo Freire)

Perguruan tinggi sebagai sebuah institusi negara dalam penyelenggaraan pendidikan untuk anak bangsa di Indonesiaa. Mengacu kepada Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni :

1. Pendidikan dan Pengajaran
2. Penelitian dan Pengembangan
3. Pengabdian Pada Masyarakat

Perguruan Tinggi selanjutnya disingkat PT, baik yang dikelola oleh negara maupun swasta, memiliki kewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai amanah konstitusi UUD’45. Melalui pembangunan manusia muda Indonesia yang arif dan bijaksana, berinovasi tinggi, dan demokratis. Perguruan tinggi terbaik adalah sebuah harapan cita-cita generasi muda saat ini, dimana telah terjadi negasi dari negasi sebagai sebuah institusi pendidikan untuk memanusiakan (pembebasan menurut Paulo Freire) ke arah sentralisasi modal semata. PT seakan-akan adalah institusi pencetak status ijasah, dimana manusia saat ini terdesak oleh semakin ketatnya persaingan yang memang adanya adalah sebuah ciptaan arus globalisasi. Perguruan Tinggi Idaman pun seakan-akan terus menajadi mimpi oleh gerakan demokratis saat ini yakni mahasiswa yang berela-rela menjadi parlemen jalanan.

PT yang mencetak lulusan cerdas, tanpa keunggulan softskill, tentu bukanlah harapan, PT yang berhasil menmbuat pembaruan teknologi tanpa kearifan lokal adalah kegagalan, PT yang tanpa berpikir dalam membuat keputusan yang tidakbijaksana adalah sebuah proses kegagalan demokrasi di negeri ini. Ini adalah  Perguruan Tinggi Idaman menurut mereka.

Saat mereka dengan sukarela menjadi parlemen jalanan (baca : mahasiswa), berkoar-koar demi nasib sebuah perguruan tinggi idaman yang telah sangat jauh dari cita-cita negara yang mereka mengerti. Perguruan tinggi idaman yang kelak akan menjadi perguruan tinggi favorit di Indonesia tak akan pernah pupus dari cita-cita mereka hingga mereka dapat mewujudkannya, meskipun hanya dengan melewati metode diskusi, entah itu di dalam sebuah perkuliahan atau sekedar nongkrong di cafe.

Saya ibaratkan disini, perguruan tinggi adalah negara, dan mahasiswa sebagai masyarakatnya. Masyarakat membayar pajak = mahasiswa membayar iuran pendidikan, lalu mereka memiliki hak untuk mendapatkan fasilitas, perkuliahan dan lainnya. Perguruan Tinggi pun akhirnya memiliki kewajiban untuk melindungi mereka (menyalurkan iuran mahasiswa untuk dikembalikan kepada mahasiswa kembali dalam bentuk pengadaan sarana dan prasarana, dosen-dosen berkualitas, pendidikan yang memanusiakan). Mahasiswa pun memiliki kewajiban untuk perbaikan mental generasi saat ini (baca : calon mahasiswa), kritis dengan suatukeilmiahan, dan bersikap solutif, begitu juga kepada Perguruan Tinggi memiliki hak untuk menyelaraskan kebutuhan institusi dengan kebijaksanaan global dalam mempeljari ilmu pengetahuan dan teknologi (seperti memberikan tugas belajar kepada aparaturnya), tapi kesemua hak dan kewajiban itu haruslah dilaksanakan dengan hati yang ikhlas, dan bertanggungjawab

Hampir semua harapan didalam mimpi ini  itu katanya terlaksana di negeri sana, dari yang konon pernah belajar di negeri kita, hingga lintas benua dengan pendapatan perkapita tinggi. Dalam bukunya “40 days in Europe“, Maulana M. Syuhada mengisahkan kehidupannya yang sulit saat berkuliah di Jerman, hingga suatu saat pembimbing thesisnya yang  seorang Profesor ternama Jerman membantunya untuk mencarikan beasiswa. Sungguh indah bukan, suatu relasi yang kuat, tidak ada kesenjangan antara pendidik dan peserta didik, yang ada adalah pengisi interaksi kehidupan karena manusia adalah makhluk sosial dan manusia adalah sama-sama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang harus saling menghargai kemanusiaan.

Aditya Dwi Prasetyo

Universitas Jenderal Soedirman


Aksi

Information

2 responses

14 01 2010
sarjoni

lanjutkan mas…

15 01 2010
Kuliah Mahal !!! « Detik Bergerak Hasrat Bergejolak

[…] berpikir sejenak bagaimna caranya biar murah, hmmm… Apa yaa.. Seperti yang sudah di ulas di Pendidikan sebagai humanisasi manusia, kita kembalikan kepada permasalahan inti bangsa, yakni dimana manusia indonesia memiliki HDI […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: