Niat ke Halimun nongol di Pelabuhan Ratu

4 12 2009

Hahaha, gak kerasa yah udah tiga ratus enam puluh lima hari kita bekerja, beraktifitas, dan bercengkrama satu sama lain. Suka duka terjadi, tangis tawa yang sudah menjadi sarapan kehidupan. Ya kok jadi bertele-tele gini sih,hehehe.
Tahun baru kali ini 2009, kita berempat adit, sulton, rio, dan wisnu memutuskan untuk melakukan touring ke puncak. Hal itu diutarakan oleh sulton dirumah rio. Hmmm, gak da yang menduga pada jam 15.00 ternyata destination pun berubah yaitu ke gn. Halimun, dengan alasan saya belum pernah kesana. Sedikit informasi, bahwa rute menuju gn. Halimun dari Ciawi sangat jauuuuuh, kita harus berkelak kelok di parungkuda, lalu 60 menit kemudian akan tercapai kelapa nunggal. Awas hati-hati di parungkuda selain jalan akan terasa berat ketika melewati setasiun parungkuda, kita pun tidak akan menemukan plang bertuliskan parungkuda di jalan raya. Agar tidak tersesat seperti kami, Dari Ciawi lurus terus menuju arah Sukabumi. Sesuai dengan plang penunjuk jalan yang bertuliskan Parakan Salak belok kanan yang akhirnya menemukan parungkuda. Di jalanan parungkuda-kelapanunggal kita masih dapat menaiki angkot, lumayanlah angkotnya tidak sempit banget. Waktu menunjukkan pukul 20.00, kami baru saja sampai kalapanunggal. Suasana pun menjadi berubah karena setiap kali kita bertanya dan bertanya menuju halimun, semua orang menjadi bertanya-tanya, dan mengucapkan “ masih jauh dek” hufh, katanya sih masih ada 50 km lagi alias 5 jam lagi. Hatipun surut untuk kesana. Menurut tukang ojek yang ada di kelapanunggal, angkutan umum hanya beroperasi hingga kabandungan. Entah menuju ke TNGH (Taman Nasional gunung Halimun) harus dengan menaiki apa, menurut pak ojek itupun sayang jika kita menggunakan motor kesana karena medan yang dihadapi adalah medan offroad mobil-mobil besar. Aduuuuuuuhh,,
20.30 pun kita makan di kelapanunggal, ya lumayanlah mengganjal perut karena belum makan malam, hehehe. Pikiran pun berubah setelah makan, dengan tawaran yang diberikan oleh pak ojek agar ke pelabuhan ratu saja daripada ke gn. Halimun, akhirnya teman-teman pun bersepakat. Karena memang rutinitas yang tidak disengaja selalu menjadi bagian penting dalam cerita kami kali ini.
Motor dipanaskan dan kita berangkat menuju Pelabuhan Ratu via Cikidang. Sedapat informasi yang saya dengar, trek Jakarta-Pelabuhan Ratu juga dapat dicapai melalui leuwi liang-kelapanunggal-cikidang-pelabuhan ratu. Hal itu diutarakan oleh bapak ojek tersebut. Haa kalo tau dari awal sih gak papa,,hehehe…
Pada pertigaan kelapa nunnggal dan cikidang kami sempat bertanya untuk meyakinkan apakah benar jalan itu yang merupakan rute ke pelabuhan ratu. Dan bapak-bapak itu meniyakan. Perlu sedikit informasi, Jangan pernah lewat malam, karena tidak ada lampu penerangan dan tidak ada rumah penduduk dalam radius yang berdekatan. Daerah tersebut merupakan daerah PTPN penghasil minyak sawit. HAL INI JUGA BERLAKU UNTUK TREK PARUNGKUDA.
Pada pertigaan cikidang dan cibadak kita diberhentikan oleh petugas dari pariwisata dan menarik retribusi sebesar Rp2500/orang, sehingga kita tidak ditarik uang lagi ketika di pelabuhan ratu nantinya. Bagi teman-teman yang belum berpengalaman naik motorhujan-hujan dan tidak sanggup melawan licinnya aspal saya sarankan agar tidak melalui cikidang karena jalannya mantabssgi pengendara mobil pun sebaiknya tidak dikarenakan trek sempit dan sangat berkelak-kelok. Pada temrinal sub cikidang kita ditagih pungli euy ma dishub. 1000 per motor, bayangkan berapa yang diraup oleh dishub tersebut pada malam tahun baru??naik haji kali ya!!hehe,,lanjut??
Lanjut… Sekitar 2 jam kita sudah sampai pelabuhan ratu yang merupakan pantai yang aneh bagi saya karena harus melewati gunung dahulu baru kita dapat melihat pantainya. Di sana kita tidak dapat bergerak dengan bebas karena Malam Tahun Baru Cuy,,apa boleh buat kita menginap di ikan bakar mitoha, dengan memesan makanan. Maklum harga tahun baru semuanya serba mahal. Banyak orang melakukan cara seperti kami bahkan ada yang sempat membawa selimut.
Jam 24.00 pun bersambut berbagai macam kembang apai pun diluncurkan, berbagai motor menekan gasnya dalam-dalam. Ombak pun menghantam bumi dengan kerasnya. Datanglah 1 Januari 2009.
Paginya kita menyelesaikan keinginan menginjakkan kaki di air laut, dan berfoto bersama di pelabuhan nelayan pelabuhan ratu.
Begitulah cerita dari kami, semoga dapat membantu merefernsikan segala sesuatu keinginan Anda. Bahasa yang kami pakai semata-mata agar lebih mendekatkan antara pembaca dengan penulis terima kasih..

NB: Bensin habis 40 ribu
Perkiraan pamulang-Pelabuhan Ratu 125 km
Kecepatan jangan melebihi 80 km/jam (banyak yang kecelakaan coy)
Siapkan alat turing kalian jalan terlalu gelap jika sudah malam


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: